Farewell

Pindah Rumah, Pindah Sekolah
Selamat pagi, Jakarta! Salam kenal, namaku Amanda Carissa. Ini adalah hari ke-3 setelah aku meninggalkan Bandung dan tinggal di Jakarta.

Hari ini, aku terbangun pukul 5 shubuh. Karena sekolah baru akan dimulai pukul 7 pagi, aku pun melanjutkan tidurku kebali. Setelah tidur lumayan nyenyak dan puas, aku terbangun lagi dan melihat jam dinding di kamarku… SUDAH JAM 6.35?! Tidakkk, aku tidak boleh terlambat di hari pertamaku! Dengan tergesa-gesa, aku ‘pun lekas mandi, memakai seragam, dan menaiki sepedahku menuju sekolah.

Karena takut terlambat, aku pun menggowes pedal sepedahku dengan sangat cepat. Lalu tiba-tiba…. Buakk! Aku menabrak seorang anak laki-laki yang sedang mengendarai sepedah juga. Tapi aku tidak punya banyak waktu, maka aku langsung pergi meninggalkannya hanya dengan sepatah kata “Maaf!”

Dengan keringat yang sudah mengucuri keseluruhan wajahku, akhirnya aku masuk kelas tepat setelah bel berbunyi. “Fiuhhh, nyaris,” kataku dalam hati. Setelah itu, aku memperkenalkan diri di depan teman-teman dan Wali Kelas baruku, dan pelajaran ‘pun dimulai…

“Kriiinggg,” bel di sekolahku sudah berbunyi lagi, menandakan waktu istirahat. Jam istirahat ini ku gunakan untuk memakan bekalku, ya sekedar beberapa lembar roti selai. Untung saja Mamaku sudah membuatkan bekal ini, karena aku kelaparan, belum sarapan. Tidak mungkin ‘kan aku bisa fokus dan berkonsentrasi dalam belajar saat perutuku kosong? Apalagi energiku habis total setelah mengebut menggunakan sepedahku tadi pagi.

“Hai, lo Amanda, ‘kan? Anak baru itu?” Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang menghampiriku. “Ya, benar. Lo siapa?” Tanyaku membalas sapaannya. “Kenalin, gue Muhammad Alvin. Panggil aja Alvin,” balas anak laki-laki tersebut. “Hmm.. Kok kayaknya muka lo familiar gitu, deh. Kita pernah ketemu gak, sih sebelumnya?” Balasku. “Masa udah lupa, sih? Gue kan yang tadi pagi lo tabrak,” ucap Alvin. “Serius? Maaf, deh, maaf banget. Itu nggak sengaja, loh. Tadi itu gue lagi buru-buru banget, takut telat,” kataku. “Iya gapapa, kok, udah gue maafin,” kata Alvin. Setelah itu, kami berdua ‘pun bercakap-cakap ringan. Dan dari percakapan tersebut, aku dapat menemukan sisi keramahan Alvin.

Awkward Moment
Jam pelajaran terakhir ‘pun selesai, hari pertamaku di sekolah juga telah berakhir. Disaat aku sudah memegang setang sepedahku, hendak pulang, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. Aku ‘pun menghampirinya dan ternyata itu adalah Guruku. Guru tersebut memintaku untuk membawakan buku-bukunya ke ruang guru. Karena tidak bisa menolak, akhirnya aku menuruti perintahnya. Dengan keseimbangan yang agak oleng, aku berjalan perlahan menuju ruang guru dengan tumpukan buku-buku tebal yang menggunung di tanganku. Ya, memang lumayan berat……

GUBRAKK! Aku menabrak sesuatu, ya? Duh, kenapa hari ini aku ceroboh banget? Gawat, buku-bukunya berjatuhan dan berhamburan di lantai. Aku ‘pun segera memungut buku-bukunya satu-persatu. Di antara begitu banyak buku-buku sejarah, aku menemukan satu buku yang berbeda, judulnya “The Start Of Our Love.” Begitu ku jabah buku tersebut, ada tangan lain yang memegang tanganku, berusaha mengambil buku itu juga. Lalu aku coba beranikan diri untuk melihat siapa orang tersebut, dan ternyata…

“Eh, sorry. Sorry juga udah nabrak lo. Gue ga sengaja. Sini gue tolongin,” kata ALVIN. WHAT THE? Tadi pagi aku udah nabrak dia, dan sekarang malah dia yang nabrak aku. Entah apa maksud semua ini, tapi bibirku beku, tidak dapat mengucapkan apapun. “Amanda, lo sakit? Muka lo merah, tuh.” Aduhhh, gimana ini? Aku nggak sakit dan mukaku merah bukan karena itu, tapi karena…karena…

“Amanda? Ya ampun, kamu harusnya bilang kalau nggak kuat bawa. Maaf Ibu udah ngerepotin. Sini, biar Ibu aja yang bawa. Makasih, ya,” Guru Sejarah datang dan membawa pergi buku-bukunya. Sedangkan aku masih berada dalam keadaan canggung atau awkward moment dengan Alvin… “Manda, kayaknya lo lagi sakit, ya? Pulang naik sepedah, kan? Lo kuat pulangnya?” Tanya Alvin. Ya ampun, dia masih mengira kalau aku sakit. “Ku-kuat, kok. Gue gapapa. Rumah gue deket,” jawabku. “Beneran gapapa? Yaudah, gue balik duluan ya,” kata Alvin.

Tetangga Baru
Setelah Alvin pergi duluan, aku ‘pun beranjak ke tempat parkiran sepedah. Lalu ku naiki sepedah putihku. Dan aku bertemu lagi dengan Alvin di jalan. Ia sedang menaiki sebuah sepedah berwarna hitam miliknya. Tapi aku tidak mau mengulang momen memalukan itu lagi, jadi aku ‘pun menutup mulut dan berpura-pura bahwa tidak ada siapa-siapa. Aku terus menggowes, berjalan menuju rumahku, tapi Alvin terus saja berada di depanku. Begitu aku lihat rumahku sudah di depan mata, Alvin berhenti dan memarkirkan sepedahnya di sebuah rumah bersebrangan dengan rumahku. Lalu Alvin menyadari keberadaanku, dia ‘pun berkata, “Amanda? Ngapain disini?” “Oh, ini, gue tinggal di sini,” kataku sambil memarkirkan sepedah di halaman depan rumahku. “Berarti kita tetanggaan gitu?” Tanya Alvin. “Eh, i-iya. Gue masuk dulu, ya,” ucapku yang lalu lekas masuk ke rumah.

Hari sudah menjelang sore, aku ‘pun mandi sore. Setelah badan segar, aku memutuskan untuk mengerjakan PR. Di hari pertama saja aku sudah mendapatkan PR yang banyak. Kebetulan meja belajarku menghadap ke jendela yang mengarah ke rumah Alvin. Begitu kubuka tirai jendelaku, aku melihat Alvin sedang menulis sesuatu di atas meja belajarnya. Awalnya, aku tidak mempedulikan hal tersebut.

Lalu saat aku tengah mengerjakan PR, ada sebuah pesawat kertas yang terbang memasuki jendela kamarku dan terjatuh di atas meja belajarku. Aku pikir itu dari Alvin, jadi aku coba menengok ke arahnya yang berada di seberang, dan Alvin melambaikan tangannya kepadaku. Aku ‘pun membaca pesan singkat yang terdapat pada pesawat kertas dari Alvin, isi pesannya adalah: “Hai. Lagi ngerjain PR mtk juga, ya?” Aku ‘pun menuliskan pesan “Iya, nih. Nomor 8 sama 11 lo tau gak caranya?” di atas sepucuk kertas, membentuknya jadi pesawat kertas, lalu menerbangkannya ke jendela Alvin sambil berharap agar tepat sasaran, dan…….benar-benar tepat sasaran! Setelah menerima jawaban dariku, ia pun mengirimkanku pesawat kertas lagi. Kali ini berisikan cara menjawab soal yang tadi ku tanyakan. Dan semenjak itu, kami jadi mengerjakan PR bersama-sama dengan saling tanya-jawab melalui pesawat kertas.

Goodbye Elementary School, Welcome Secondary School
Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah tinggal 1 tahun di Jakarta. Dan hari ini, aku sedang menjalankan wisuda kelulusan SD. Akhirnya berakhir sudah hari-hariku di Sekolah Dasar. Telah selesai pula kisahku di bangku Sekolah Dasar.

Aku lulus dengan nilai-nilai yang tinggi dan memuaskan. Meskipun tidak setinggi Alvin, karena Alvin adalah lulusan terbaik di angkatanku. Setahun penuh sudah aku mengenal sosok M Alvin. Selain kecerdasan dan kebaikannya, hal yang membuatku tertarik padanya adalah sisi humorisnya.

Pada tahun ke-2 ku di Jakarta, aku sudah menjadi Siswi SMP. Tak disangka-sangka, aku masuk di SMP yang sama dengan Alvin, meskipun kita sudah tidak sekelas lagi.

Sejak masuk SMP, aku mulai fokus terhadap hobiku yang sesungguhnya, yaitu bermain basket. Senang bukan kepalang begitu diumumkan bahwa aku menjadi Point Guard tim inti basket di sekolahku. Aku berharap agar Alvin juga masuk ekstra kulikuler basket, tapi ternyata dia memilih Klub Biologi. Yasudahlah, tak apa-apa, itu hanya hal sepeleh.

Ohya, selain basket, aku juga aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang biasa disingkat menjadi OSIS. Ngomong-ngomong soal OSIS, sebagai si cogan di OSIS, Alvin ditaksir oleh banyak anak perempuan di sekolah dan itu berarti aku punya banyak saingan.

Will You Be Mine?
Selamat pagi, dunia! Hari ini aku melakukan kegiatan-kegiatan rutinku di hari sabtu… Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, lari pagi beberapa putaran di taman dekat rumah, pulang, sarapan, lalu mandi. Setelah mandi, aku bermain internet di netbook kesayanganku. Tidak lupa ditemani berbagai makanan ringan. Lalu saat aku sedang bermain internet…

“Ting!” Tiba-tiba hpku berbunyi. Wah, ternyata ada pesan dari Alvin yang berisikan, “Selamat pagi menjelang siang, cantik! Lagi ngapain?” Lalu aku membalasnya, “Jir geli dah gue bacanya wkwkw. Kesambet apaan lo? Lagi mabok tugas?” “Dipuji cantik kok malah begitu, sih?” Kata Alvin. “Halah, alesan aja. Sok gombal lo,” kataku. “Ke bawah dong. Liat tuh di depan pintu ada apa,” jawab Alvin.

Lalu di depan teras, aku menemukan sebuket bunga mawar dengan sepucuk pesan bertuliskan “Meet me right now @ the park.” Tanpa pikir panjang, ku ambil sepedahku dan ku kayuh menuju taman.

Sesampainya di taman, aku bertemu dengan Alvin yang sedang menggendong sebuah boneka Teddy Bear besar. Lalu ia berkata, “Amanda Carissa, will you be my girlfriend?”

My first love, my first relationship, my first date, my best day ever.

Teman Baru
Hari ini, kelas ku kedapatan seorang murid baru. Teman baruku bernama Olivia Clairine. Dia adalah orang yang cantik, baik, dan pintar dalam biologi. Tidak lama kemudian, aku dan Olivia pun menjadi sahabat.

It Hurts
Hari ini, aku bangun kesiangan, tapi untungnya hari ini adalah hari minggu. Begitu ku cek telepon genggamku, ada sebuah notifikasi tentang pesan suara kiriman Alvin. Begitu kubuka pesan suara tersebut, terdengar suara yang mengatakan, “Manda, maaf, ya, kita putus.” Pesan suara yang sangat singkat, tapi menyakiti hatiku sangat dalam. “Kenapa, Vin? Kenapa?” Tanyaku kepadanya. Tapi lalu pesanku tidak dibalas. Dengan pikiran yang berantakan dan berat hati, aku hapus semua memori-memori manis-pahit antara aku & Alvin di hpku. Lalu malamnya, aku tidak bisa tidur, justru menangis… Aku rindu…

Adik Angkat
Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 2 SMP. Tidak lama setelah aku mengundurkan diri dari OSIS, Alvin diangkat menjadi Ketua OSIS. Tapi aku masih aktif dalam kegiatan basket, bahkan sekarang aku adalah Kaptennya.

Selain itu, sekarang aku memiliki seorang adik angkat bernama Sophia Grace Roxanne. Dia memiliki rambut pirang yang panjang. Sedangkan matanya berwarna biru langit. Bulu matanya lentik. Ditambah lagi dengan lesung pipit yang dia miliki di kedua pipinya. Dia berasal dari Inggris.

Kenapa bisa ada Bule nyasar di rumahku? Dia adalah sepupuku yang diadopsi oleh Orang Tuaku, karena ke-2 Orang Tua Sophia baru-baru meninggal dunia akibat kecelakaan. Kasihan loh, padahal Sophia masih kelas 2 SD. Dia juga amat manja, tapi aku tidak keberatan dengan hal tersebut.

Suprisingly
Pada hari ini, aku sudah berencana untuk pergi berenang bersama Olivia dan Sophia. Setelah selesai bersiap-siap, aku menghubungi Olivia, tapi tidak ada respon. Aku ‘pun mencoba menelponnya untuk kedua kalinya, dan akhirnya Olivia mengangkatnya. Lewat telepon, Olivia minta maaf karena tidak bisa ikut berenang. Dia bilang bahwa dia punya urusan mendadak dan dia berjanji akan berenang bersamaku & Sophia di lain waktu. Lalu Sophia merengek minta dibawa berenang. Akhirnya kami ‘pun tetap pergi berenang meski tanpa Olivia.

Siang harinya, setelah kami puas berenang, kami berencana untuk pulang, sebelum sinar matahari benar-benar menyengat kulit kami. Dan hari itu merupakan hari yang benar-benar panas. Untuk menyejukkan diri sejenak, aku mampir membeli es krim untukku dan untuk Sophia di jalan pulang. Lalu aku dan Sophia ‘pun duduk bersama sambil menghabiskan es krim kami. Tiba-tiba, aku melihat suatu hal yang mengejutkan… Alvin berjalan sambil tertawa-tawa dan bergandengan tangan dengan seorang perempuan. “Kak Manda, es krimnya jatuh, tuh. Yahh, sayang banget padahal baru dimakan setengah,” kata Sophia. Tapi aku tetap saja memelototi mereka berdua, tanpa memikirkan es krimku. Terlebih lagi, orang yang bergandengan dengan Alvin adalah…

“Kak Olivia!” Seru Sophia. Olivia dan Alvin menengok, wajah mereka terlihat sangat kaget melihat keberadaanku. Alvin berusaha menarik Olivia menjauh, tapi Olivia justru berlari ke arahku. “Ma-maaf, Manda! Aku benar-benar minta maaf,” Kata Olivia.

Jadi Olivia membatalkan rencana berenang kita karena dia ingin berkencan dengan Alvi. Jadi Alvin waktu itu memutuskanku karena sudah menyukai Olivia. Bodohnya aku ini. Mengapa aku baru sadar sekarang? Begitu aku menengok ke arah Alvin, dia sudah menghilang. Pe-perasaan apa ini? Kepalaku seketika pusing, dan… BRUAK!

Begitu mataku terbuka lagi, ku lihat sosok Ayah dan Ibuku. Mereka bilang bahwa aku jatuh pingsan, lalu Alvin dan Olivia yang membawaku dan Sophia pulang.

SURPRISE!
Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun telah dilewati. Sekarang aku sudah menjadi Mahasiswi jurusan arsitektur. Sedangkan Olivia dan Alvin mengambil jurusan kedokteran -Rupanya hubungan mereka tidak berujung.

Aku, Olivia dan Alvin sedang memasuki semester ke-3 di umur 17 tahun, karena kami bertiga sama-sama pernah melakukan percepatan di SMP & SMA. Selain itu, Sophia baru-baru ini memasuki SMP di sekolah lamaku dengan Olvia dan Alvin.

Ngomong-ngomong soal Sophia, sudah lama sekali aku tidak bermain bersamanya. Bahkan mengobrol saja sangat jarang. Padahal Sophia sering membujukku untuk bermain bersamanya. Tapi semenjak aku mengikuti percepatan, aku jadi semakin sibuk dan waktuku semakin terkuras, jadi aku tidak sempat lagi bermain bersamanya dan aku jadi merasa bersalah kepadanya.

Tapi aku telah berniat menghabiskan waktu ku seharian ini untuk bermain bersamanya. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Sophia, ulang tahunnya yang ke-12. Aku juga sudah mempersiapkan kado untuknya, yaitu sebuah kamera DSLR yang sudah lama dia idam-idamkan. Aku membelinya dengan menggunakan uang tabunganku sendiri, loh. Selain itu, aku dan Olivia juga mempersiapkan sebuah pesta kejutan. Walaupun hanya pesta kecil-kecilan, yaitu berupa beberapa hiasan pesta di kamar Sophia dan sebuah kue tart cokelat.

Lalu akhirnya Sophia pulang dari sekolahnya, dia begitu terkejut dan senang akan hadiah dariku dan Olivia. Kami bertiga ‘pun mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu memakan kue bersama-sama. Kuenya benar-benar lezat, loh! Tidak lama setelah itu… Bruak!

Sophia jatuh pingsan. Lalu Olivia mengecek keadaan Sophia. Dan tanpa menjelaskan apapun, Olivia langsung menyuruhku membawa Sophia ke Rumah Sakit. Aku ‘pun membawa Sophia ke Rumah Sakit terdekat. Lalu Olivia pulang, dia bilang bahwa dia harus pergi ke rumah Pamannya.

Beberapa saat setelah aku menunggu, akhirnya Dokter memberiku penjelasan akan keadaan Sophia. Sayangnya, penjelasan tersebut merupakan kabar buruk. Ternyata Sophia terkena Leukimia/Kanker Darah. Aku ‘pun segera mengabari Ayah & Ibuku, lalu mereka bergegas datang. Dan hari sudah menjelang malam, tapi Sophia tak kunjung bangun. Ayah menyuruhku dan Ibu untuk pulang, agar Ayah saja yang menemani Sophia. Dan akhirnya aku ‘pun pulang bersama Ibu.

Jangan Pergi, Adik Manis
Sekarang hari sudah pagi, aku ‘pun pergi ke sekolah Sophia, memintakan izin tidak masuk kepada Wali Kelas Sophia. Setelah itu, aku pergi menjenguk Sophia di Rumah Sakit. Setibanya aku di Rumah Sakit, Ayah ‘pun pulang. Untung saja hari ini aku tidak ada kelas maupun kegiatan di Kampus, jadi bisa menemani Sophia seharian.

Sudah 4 bulan Sophia tidak masuk Sekolah, betapa kasihan nasibnya… Dalam jangka waktu 4 bulan inilah, Sophia berubah total. Itu karena efek samping obat yang merontokkan rambutnya hinga habis. Apalagi dia harus melewati berbagai cara pengobatan yang sangat amat menyakitkan. Wajahnya juga sangat pucat dan dia seringkali merasa pusing serta mual. Pilu rasanya melihat keadaan Sophia yang sekarang. Sophia sekarang jadi sangat pendiam. Jika bisa, aku mau memindahkan penyakitnya kepadaku, tapi itu mustahil. Pasti Sophia juga merindukan momen-momennya di sekolah maupun di rumah. Seharian Sophia hanya bersandar di ranjang Rumah Sakit sambil menahan tangisan. Aku yang sehari-hari menemaninya tepat di samping ranjangnya. Tapi dia tidak mau mengobrol lagi denganku. Dia justru sering menatap foto Almarhum Orang Tuanya dengan tatapan dalam yang membuatku luluh ke dalam kesedihannya.

Sekarang semuanya sudah sangat berbeda. Setiap kali Sophia ku ajak ngobrol, dia selalu mencuekkanku. Setiap kali ku ajak dia bermain, dia selalu menggelengkan kepalanya.

Semakin hari, semakin banyak orang yang menjenguk Sophia. Mulai dari tetangga, kerabat, sampai teman-teman dan guru-guru Sophia. Sophia dikelilingi oleh begitu banyak orang yang menyayanginya. Dan kenyataan bahwa semua orang yang mengenal Sophia menyayangi dirinya itu masuk akal, karena ku yakin tidak ada yang tidak menyukai sosok Sophia.

Rekreasi
Hari ini, seluruh keluarga besarku pergi berekreasi. Tepatnya jalan-jalan ke Bali. Kami sudah berusaha keras membujuk pihak Rumah Sakit untuk membolehkan Sophia keluar walau hanya untuk beberapa hari. Usaha kami ‘pun tidak sia-sia, akhirnya Sophia dibolehkan keluar dari Rumah Sakit untuk sementara. Lagipula Sophia pasti sangat bosan di Rumah Sakit. Dia juga butuh hiburan.

Di perjalanan, Sophia menjadi pusat perhatian keluargaku. Semuanya memedulikan Sophia dan memayoritaskan Sophia. Tiba di Bali, kami langsung pergi mencari Pantai Kuta, Pantai yang indah sekali dan sangat populer di Bali. Di Pantai Kuta, semua bersenang-senang, kecuali aku dan Sophia. Aku mengajak Sophia bermain, tapi dia tidak menjawab ajakanku. Dia terus duduk dan menundukkan kepalanya. Setelah berkali-kali aku membujuknya, dia tetap saja terdiam. Akhirnya aku ‘pun menyerah dan memutuskan untuk duduk diam saja di samping Sophia. Memang sangat sayang jika kita sudah jauh-jauh pergi ke sini, tapi tidak ikut bersenang-senang. Sangat disayangkan juga karena kami akhirnya dapat izin cuti Sophia di Rumah Sakit, tapi Sophia tetap tidak mau melakukan apapun. Tapi aku juga tidak tega bersenang-senang di saat Sophia sedang murung, terutama jika Sophia ditinggal sendirian di Rumah Sakit.

Lalu malam datang dan sekarang adalah saatnya makan malam. Menu makan malam kali ini serba seafood, jenis makanan kesukaan Sophia. Dengan riang, aku membawa 2 porsi makan malam, 1 untukku dan 1 untuk Sophia. Saat pertama kali ku ajak Sophia makan, dia tidak menjawab ajakanku. Ku pikir dia sedang tidak mau makan seperti biasanya. Lalu akhirnya ku paksa dia makan, tapi dia tetap terdiam. Melihat posisinya yang daritadi sama, aku mulai beranggapan bahwa dia sedang tertidur. Lalu aku ‘pun coba membangukannya dengan cara sedikit mengguncangkan tubuhnya, dan… Buak!

Badan Sophia terjatuh, tapi dia belum juga terbangun. Dengan panik, aku langsung lari memberitahu Ayah & Ibu. Setelah itu, kami langsung membawa Sophia ke Rumah Sakit terdekat dan Sophia langsung diberi perawataan intensif.

Jangan Pergi, Adik Manis (2)
Sudah seminggu semenjak Sophia pingsan di Bali. Sophia sudah dipindahkan ke Rumah Sakit di Jakarta, Rumah Sakit dekat rumah kami. Tapi sampai sekarang, Sophia belum juga siuman. Aku jadi merindukan mata indahnya dan tatapannya yang menyejukkan dan teduh.

Lalu Olivia datang menjenguk dan aku coba berbicara kepada Sophia, “Sophia… Adik cantik, bangunlah, buka matamu. Coba lihat, Kak  Olivia ada disini bawa sebuket bunga buat kamu. Bunganya cantik loh.”

Sangat tak terduga, akhirnya Sophia membuka matanya. “Sophia?!” Ucapku kaget. Lalu Olivia menyodorkan bunganya kepada Sophia. “Wah, cantik… Terima kasih, kak,” jawab Sophia. Aku terharu, akhirnya aku kembali mendengar suara lembut Sophia setelah sekian lama. “Sophia, kamu tahu tidak? Banyak orang yang mengkhawatirkanmu, loh,” kata Olivia. “Sophia, maafin Kak Manda ya. Kak Manda udah egois. Kak Manda nyesel nolak tawaran mainmu dulu. Kak Manda nyesel nyuekkin kamu dulu,” ucapku dengan air mata yang mengalir perlahan-lahan. “Kak Manda jangan nangis. Aku juga minta maaf, karena selama ini aku selalu merepotkan dan menyusahkan semuanya. Makasih ya, Kak, dan semuanya,” jawab Sophia. “Sophia, aku berjanji akan menemanimu bermain hingga puas setelah kamu sembuh. Jadi cepat sembuh, ya!” Kataku. “Aku mau main sekarang. Aku takut waktu ku sudah tidak lama lagi,” kata Sophia. “Tapi kamu masih kurang sehat,” kata Olivia. “Bagaimana kalau kita main dandan-dandanan? Seperti yang biasa kita lakukan dulu,” tawarku. “Tidak, Sophia mau main petak umpet. Sophia tidak pernah main petak umpet dengan Kak Manda dan Sophia mau nya sekarang,” kata Sophia.

Aku khawatir akan terjadi apa-apa bila Sophia harus beranjak dari ranjang karena ingin main petak umpet. Tapi aku tidak bisa menolak permintaannya kali ini, karena sudah terlalu banyak permintaannya yang ku tolak dulu. Begitu Sophia beranjak dari ranjang, dia menolak tawaran Olivia untuk menaikkannya ke kursi roda. Lalu Sophia ‘pun mulai berjalan. Kakinya ‘pun berjalan perlahan sambil bergetar. Langkah pertama………………………………………. Langkah kedua………………………………….. Langkah ketiga………………………………………….. Langkah ke-empat………………………………………………… BRUAKK!

Sophia terjatuh dan membuatku aku & Olivia sangat terkejut. “Tidak! Jangan bantu Sophia! Sophia bisa bangun sendiri!” Kata Sophia saat aku hendak membantunya bangun. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Sophia berusaha keras agar dapat bangun. Dia sudah melakukan sekuat tenaga, tapi dia tetap tidak bisa bangun. Tes… Kulihat setitik air mata Sophia jatuh ke lantai, hatiku tergores. “Kak, kita akan bermain petak umpet, ‘kan? Aku pasti bisa bangun, pasti bisa, aku harus bisa..-”………………………………………………………………………………………………………….. Bruak!

Badan Sophia menyentuh lantai setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya. Denyut nadinya berhenti. Dia sudah tidak bernafas. Olivia menangis. Aku ‘pun rasanya ingin menangis, tapi ku tahan diriku agar tidak menangis. Ku tahan dan ku tahan, lalu………………………………………………………………………

“SOPHIAAAAA!” Aku berteriak di kala tangisanku meledak. Disaat aku dan Olivia sedang tersedu-sedu, Mama, Papa, dan Dokter datang memasuki ruangan. Dokter langsung memberi pertolongan pertama, lalu rupanya………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Usaha Dokter tersebut sia-sia. Ibu menangis di pelukan Ayah, lalu Ayah berkata, “Menangislah sepuasnya. Keluarkan segala unek-unek kalian. Jangan dipendam. Tapi setelah itu, berjanjilah pada diri kalian sendiri bahwa kalian tidak akan menangisinya lagi. Ayah yakin bahwa Sophia akan segera bertemu kembali dengan Orang Tuanya di surga. Sophia pasti bahagia.”

Aku akan sangat merindukanmu. Selamat jalan adikku tersayang, Sophia Grace Roxanne… Farewell… TAMAT.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s