Love Story + Best Friendship + Sisterhood

Pindah Rumah, Pindah Sekolah
Selamat pagi, Jakarta! Ohya, salam kenal, namaku Putri Safitri. Ini adalah hari ke-3 aku tinggal di Jakarta, tepatnya ditengah-tengah kota yang saaaaangat sibuk. Sebelumnya aku tinggal di Bandung. Dan mulai hari ini, aku resmi menjadi Siswi kelas 6 di sebuah SD swasta. Sebenarnya aku masuk jam 7.15 pagi, tapi aku sudah terbangun jam 5 shubuh. Karena masih ada waktu luang yang cukup lama, jadi ku putuskan untuk tidur kembali. Setelah tidur lumayan nyenyak dan puas, aku terbangun lagi dan melihat jam dinding di kamarku… SUDAH JAM 6.35?! Tidakkk, aku tidak boleh terlambat di hari pertamaku! Dengan tergesa-gesa, aku ‘pun lekas mandi, memakai seragam, dan menaiki sepedahku menuju sekolah -sekolahku memang lumayan dekat, jadi masih dapat dijangkau dengan sepedah-. Karena takut terlambat, aku pun menggowes pedal sepedahku dengan sangat cepat. Lalu tiba-tiba…. Buakk! Aku menabrak seorang anak laki-laki yang sedang mengendarai sepedah juga. Tapi aku tidak punya banyak waktu, maka aku langsung pergi meninggalkannya hanya dengan sepatah kata “Maaf!” Dengan keringat yang sudah mengucuri keseluruhan wajahku, akhirnya aku masuk kelas tepat setelah bel berbunyi. “Fiuhhh, nyaris,” kataku dalam hati. Setelah itu, aku memperkenalkan diri di depan teman-teman dan Wali Kelas baruku, dan pelajaran ‘pun dimulai…-

“Kriiinggg,” bel di sekolahku sudah berbunyi lagi, menandakan waktu istirahat. Jam istirahat ini ku gunakan untuk memakan bekalku, ya sekedar beberapa lembar roti selai. Untung saja Mamaku sudah membuatkan bekal ini, karena aku kelaparan, belum sarapan. Tidak mungkin ‘kan aku bisa fokus dan berkonsentrasi dalam belajar saat perutuku kosong? Apalagi energiku habis total setelah mengebut menggunakan sepedahku tadi pagi. “Hai. lo Putri, ‘kan? Anak baru itu?,” tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang menghampiriku. “Ya, benar. Lo siapa?” tanyaku membalas sapaannya. “Kenalin, gue Muhammad Alvin. Panggil aja Alvin,” balas anak laki-laki tersebut. “Hmm.. Kok kayaknya muka lo familiar gitu, deh. Kita pernah ketemu gak, sih sebelumnya?,” balasku. “Hihihi. Masa udah lupa, sih? Gue kan yang tadi pagi lo tabrak,” ucap Alvin. “Serius? Maaf, deh, maaf banget. Itu nggak sengaja, loh. Tadi itu gue lagi buru-buru banget, takut telat,” kataku. “Hahaha. Nggak apa-apa kok, udah gue maafin,” kata Alvin. Setelah itu, kami berdua ‘pun mendapatkan percakapan ringan. Dan dari percakapan tersebut, aku dapat menemukan sisi keramahan Alvin.

Awkward Moment
Jam pelajaran terakhir ‘pun selesai, hari pertamaku di sekolah juga telah berakhir. Disaat aku sudah memegang setang sepedahku, hendak pulang, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. Aku ‘pun menghampirinya, dan ternyata itu adalah Guruku. Guru tersebut memintaku untuk membawakan buku-bukunya ke ruang guru. Karena tidak bisa menolak, akhirnya aku menuruti perintahnya. Dengan keseimbang yang agak oleng, aku berjalan perlahan menuju ruang guru dengan tumpukan buku-buku tebal yang menggunung di tanganku, ya memang lumayan berat…… GUBRAKK! Aku menabrak sesuatu, ya? Duh, kenapa hari ini aku ceroboh banget? Gawat, buku-bukunya berjatuhan. Aku ‘pun segera memungut buku-bukunya satu-persatu. Semua bukunya mengenai sejarah dan sejarah, karena pemilik buku ini adalah Guru Sejarah. Tapi tak kusangka, akhirnya aku menemukan 1 buku yang bukanlah buku sejarah, judulnya “Our Love Adventure.” Begitu kujabah buku tersebut, ada tangan lain yang memegang tanganku, berusaha mengambil buku itu juga. Tiba-tiba aku merasa sangat malu, seperti di film-film saja :p . Lalu aku coba beranikan diri untuk melihat siapa orang tersebut, dan ternyata… “Eh, sorry, nggak sengaja. Gue cuma niat ngebantu. Soalnya gue merasa bersalah udah nabrak lo,” kata ALVIN. WHAT THE? Tadi pagi aku udah nabrak dia, dan sekarang malah dia yang nabrak aku. Entah apa maksud semua ini, tapi bibirku beku, tidak dapat mengucapkan apapun. “Put, lo sakit? Muka lo merah, tuh.” Aduhhh, gimana ini? Aku nggak sakit dan mukaku merah bukan karena itu, tapi karena…karena… “Putri? Ya ampun, kamu harusnya bilang kalau nggak kuat bawa. Maaf Ibu udah ngerepotin. Sini, biar Ibu saja yang membawanya. Makasih, ya,” Guru Sejarah datang dan membawa pergi buku-bukunya. Sedangkan aku masih berada dalam keadaan canggung/momen memalukan/awkward momentdengan Alvin… “Put, kayaknya lo lagi sakit, ya? Pulang naik sepedah, kan? Lo kuat pulangnya?,” tanya Alvin. Ya ampun, dia masih mengira kalau aku sakit. “Ku-kuat, kok. Gue nggak apa-apa. Rumah gue gak jauh,” jawabku. “Oh, yaudah, deh, gue pulang duluan, ya, dah,” kata Alvin. “Da-dadah. Hati-hati di jalan,” kataku. “Apa?,” tanya Alvin yang tidak mendengar balasanku dengan jelas. “Nggak, nggak ada apa-apa, kok,” kataku berbohong.

Tetangga Baru
Setelah Alvin pergi duluan, aku ‘pun beranjak ke tempat parkiran sepedah. Lalu kunaiki sepedah putihku. Dan aku bertemu lagi dengan Alvin di jalan, ia sedang menaiki sebuah sepedah berwarna hitam miliknya. Tapi aku tidak mau mengulang momen memalukan itu lagi, jadi aku ‘pun menutup mulut dan berpura-pura bahwa tidak ada siapa-siapa. Aku terus menggowes, berjalan menuju rumahku, tapi Alvin terus saja berada di depanku. Begitu aku lihat rumahku sudah di depan mata, Alvin berhenti dan memarkirkan sepedahnya di sebuah rumah yang berada tepat di depan rumahku. Lalu Alvin menyadari keberadaanku, dia ‘pun berkata, “Putri? Ngapain lo di sini?” “Oh, ini, gue tinggal di sini,” kataku sambil memarkirkn sepedah di halaman depan rumahku. “Berarti kita tetanggaan gitu?,” tanya Alvin. Belum aku balas pertanyaannya, aku sudah kabur ke dalam rumah. Sudahlah, aku tidak mau lagi memikirkan Alvin.

Hari sudah menjelang sore, aku ‘pun mandi sore. Setelah badan segar, aku memutuskan untuk mengerjakan PR. Di hari pertama saja aku sudah mendapatkan PR yang sangat banyak. Kebetulan meja belajarku menghadap ke jendela yang mengarah ke rumah Alvin. Begitu kubuka tirai jendelaku, aku melihat Alvin sedang menulis sesuatu di atas meja belajarnya. Awalnya, aku tidak memedulikan hal tersebut. Tapi saat aku tengah mengerjakan PR, ada sebuah pesawat kertas yang terbang memasuki jendela kamarku dan terjatuh di atas meja belajarku. Aku pikir itu dari Alvin, jadi aku coba menengok ke arahnya yang berada di seberang, dan Alvin melambaikan tangannya kepadaku. Aku ‘pun membaca pesan singkat yang terdapat pada pesawat kertas dari Alvin, isi pesannya adalah, “Hai. Lagi ngerjain PR mtk juga, ya?” Aku ‘pun menuliskan pesan, “Iya, nih. Nomor 8 sama 11 lo tau gak caranya?” di atas sepucuk kertas, membentuknya jadi pesawat kertas, lalu menerbangkannya ke jendela Alvin sambil berharap agar tepat sasaran, dan…….benar-benar tepat sasaran! Setelah menerima jawaban dariku, ia pun mengirimkanku pesawat kertas lagi, kali ini berisikan cara menjawab soal yang tadi ku tanyakan. Dan semenjak itu, kami jadi mengerjakan PR bersama-sama dengan saling tanya-jawab melalui pesawat kertas.

Goodbye Elementary School, Welcome Secondary School
Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah tinggal 1 tahun di Jakarta. Dan hari ini, aku sedang menjalankan Wisuda Kelulusan SD. Akhirnya berakhir sudah hari-hariku di Sekolah Dasar. Telah selesai pula kisahku di bangku Sekolah Dasar, selesai dengan nilai-nilai yang lumayan tinggi. Meskipun tidak setinggi Alvin, karena Alvin adalah Lulusan Terbaik di angkatanku. Setahun penuh sudah aku mengenal sosok M Alvin. Hal yang membuatku tertarik padanya adalah sisi humorisnya.

Pada tahun ke-2 ku di Jakarta, aku sudah menjadi Siswi SMP. Dan tak disangka-sangka, aku masuk di SMP yang sama dengan Alvin, meskipun kita sudah tidak sekelas lagi. Sejak masuk SMP, aku mulai fokus terhadap hobiku yang sesungguhnya, yaitu bermain basket. Senang bukan kepalang begitu diumumkan bahwa aku menjadi Point Guard tim inti basket di sekolahku. Aku berharap agar Alvin juga masuk ekstra kulikuler basket, tapi ternyata dia memilih esktra kulikuler fun science. Yasudahlah, tak apa-apa, itu hanya hal sepeleh. Ohya, selain basket, aku juga aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang biasa disingkat menjadi OSIS. Ngomong-ngomong soal OSIS, sebagai si cogan Ketua OSIS, Alvin ditaksir oleh banyak anak perempuan di Sekolah, dan itu berarti sainganku ada segudang.

Will You Be Mine?
Selamat pagi, dunia! Hari ini aku melakukan kegiatan-kegiatan rutinku di hari sabtu… Bangun tidur, cuci muka, sikat gigi, lari pagi beberapa putaran di taman dekat rumah, pulang, sarapan lalu mandi. Setelah mandi, aku bermain internet di netbook kesayanganku, tidak lupa ditemani berbagai makanan ringan. Lalu saat aku sedang bermain internet… “Ting!,” tiba-tiba hpku berbunyi. Wah, ternyata ada SMS dari Alvin yang berisikan, “Selamat pagi menjelang siang, cantik! Princess lagi ngapain?” Lalu aku membalasnya, “Jir geli, dah, gue bacanya wkwkw. Kesambet apaan lo? Lagi mabok tugas?” “Dipuji cantik kok malah begitu, sih? Namamu Putri, ‘kan? Nah, ‘princess’ itu ‘kan bahasa inggrisnya ‘putri’,” kata Alvin. “Halah, alesan aja. Sok gombal lo. Pacar aja bukan,” kataku. “Then if i ask you to be mine, will you accept or deny?,” tanya Alvin. “Jangan main-main, ah,” kataku. “I’m serious, babe,” kata Alvin. “Accept,” kataku. “Will you be my Girlfriend?,” tanya Alvin. “Yes, but just promise me to be loyal, because i hate short relationship. I’d rather have no relationship than having short relationship,” balasku. “I will. Just trust me. By the way, can you get out from your house for a while, please? There’s something in front of your house’s door,” kata Alvin. Lalu aku ‘pun segera keluar kamar, turun tangga dan berlari menuju pintu masuk. Di luar pintu masuk, kutemui selembar kertas berbentuk hati yang bertuliskan “Meet me right now @ the park.” Tanpa pikir panjang, ku ambil sepedahku dan ku kayuh menuju taman yang datangi tadi. Sesampainya di taman, aku menemukan tulisan indah yang terbuat dari jejeran bermacam-macam bunga. Tulisan tersebut dibuat oleh Alvin khusus untukku, bertuliskan, “Thanks For Accepting Me.” Lalu Alvin menghampiriku, aku ‘pun langsung memeluk Alvin dan membisikkan, “I love you.” Setelah itu, Alvin membalas ucapanku dengan mengatakan, “I love you too.” Lalu kami duduk di kursi taman bersama, sambil mengobrol seperti biasa. Selain Alvin, ada orang lain juga yang duduk disampingku, yaitu boneka baruku yang dibelikan Alvin. Boneka tersebut merupakan boneka beruang yang sangat besar. My first love, my first relationship, my first date, my best day ever.

Teman Baru
Hari ini, kelasku mendapatkan seorang teman baru. Teman baruku bernama Olivia Claire, tapi dia hanya mau dipanggil ‘Kesha’. Entah darimana kata “Kesha” tersebut berasal. Ohya, dia pindahan dari Bandung juga, sama sepertiku. Padahal aku kira dia pindahan dari luar negri, namanya saja begitu. Saat ku tanya mengenai namanya, dia bilang itu adalah pemberian Kakek dan Neneknya yang tinggal di Kanada. Kesha merupakan anak yang sangat cantik dan baik hati, dia juga ahlinya kelas biologi. Karena itu, banyak orang yang menjadi Penggemarnya, entah itu perempuan ataupun laki-laki.

Gelang Persahabatan
Seiring waktu berjalan, hubunganku dengan Kesha semakin erat, dan akhirnya kami ‘pun membuat tali persahabatan. Tanda persahabatan kami adalah dua buah gelang warna-warni yang memiliki gantungan tanda peace dan gantungan menara Eiffel. Gelang tersebut merupakan pemberian Kesha, dia yang beli di Bandung. Walau hanya terlihat seperti gelang manik-manik biasa, tapi bagi kami itu ada artinya. Warna-warnanya melambangkan persahabatan kami yang penuh warna. Tanda peacemelambangkan kedamaian yang perlu kita ingat bila sedang bertengkar. Dan gantungan menara Eifell melambangkan perjanjian kami, kami berjanji akan pergi ke Paris bersama dan mengunjungi menara Eifell suatu hari nanti. Masing-masing dari kami memakai gelang tersebut setiap hari.

Hurt
Pagi ini hanyalah pagi biasa lainnya. Hari ini, aku bangun kesiangan, tapi untungnya hari ini adalah hari minggu. Begitu ku cek telepon genggamku, ada sebuah notifikasi tentang pesan suara kiriman Alvin. Begitu kubuka pesan suara tersebut, terdengar suara yang mengatakan, “Put, maaf, ya, kita putus.” Pesan suara yang sangat singkat, tapi menyakiti hatiku sangat dalam. Padahal baru kemarin kita pergi karaoke bersama, padahal baru kemarin dia merangkulku… “Why, Honey? Why? Sweetheart, please tell me why…,” kataku dalam hati. Dengan pikiran yang berantakan dan berat hati, aku hapus semua memori-memori manis-pahit antara aku & Alvin di hpku. Lalu malamnya, aku tidak bisa tidur, justru menangis… Padahal selama ini tidak ada masalah apa ‘pun di antara hubungan kita. Apa dia sudah menyukai perempuan lain? Tapi aku belum bisa move on darinya. Kamu bilang kamu akan setia, bullshit. Baru putus sehari saja, aku sudah merindukan kehangatan tubuhmu, merindukan senyumanmu dan suara tawamu yang amat khas…

Baru kemarin aku putus cinta, sekarang ada ujian harian di sekolah. Aku tidak yakin dengan ujianku kali ini, karena kepalaku sedang benar-benar pusing. Aku tidak dapat berhenti mengenang dirinya. Dan benarlah terjadi, aku benar-benar mendapatkan nilai jelek akibat tidak fokus dan teliti. Bagi teman-temanku, ini merupakan sebuah tragedi, karena aku belum pernah mendapatkan nilai jelek sebelumnya.

Adik Angkat
Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 2 SMP. Aku juga sudah mengundurkan diri dari OSIS. Tapi aku masih aktif dalam kegiatan basket, bahkan sekarang aku adalah Kaptennya. Dan sekarang aku memiliki seorang Adik Angkat bernama Sophia Grace Roxanne. Dari namanya, sudah terlihat bahwa dia adalah orang luar. Rambutnya pun panjang, pirang, keriting. Dia bermata bulat besar, matanya berwarna biru langit. Bulu matanya lentik, tubuh dan bibirnya mungil, sedangkan pipinya chubby. Aku sangat gemas melihat pipinya yang kemerah-merahan itu, rasanya ingin kucubit! Ditambah lagi dengan lesung pipit yang dia miliki di kedua pipinya. Dia berasal United Kingdom. Kenapa bisa ada Bule nyasar ke rumahku?. Tapi dia bukan bule nyasar, melainkan Sepupuku yang diadopsi Orang Tuaku, karena ke-2 Orang Tua Sophia baru-baru meninggal dunia akibat kecelakaan. Kasihan loh, padahal Sophia masih kelas 2 SD. Dia juga amat manja, tapi aku tidak keberatan dengan hal tersebut. Sophia juga memberiku nama panggilan khusus, yaitu: Kak Natalie. Entah dari mana dia memiliki ide tersebut, dan entah untuk apa. Dengan keberadaannya, aku (yang tadinya Anak Tunggal) tidak lagi sendirian bila ke-2 Orang Tuaku pergi bekerja. Aku juga senang bermain dengan Sophia di waktu luang, seperti… Berbelanja bersama di Mall, pergi bersama ke Salon, berdandan bersama, bersama-sama membuat Cat Walk bohongan, saling curhat, bernyanyi bersama, masak bersama dan bermain games bersama.

Oh, Ternyata
Pada hari ini, aku memiliki acara berenang bersama Kesha. Aku juga sudah berjanji untuk membawa Sophia. Dan setelah selesai berkemas, aku tunggu Sophia mencari baju renangnya. Waktu terus berjalan, Sophia belum juga menemukan baju renangnya. Maka karena itu, aku ‘pun memutuskan untuk membantu Sophia. Setengah jam berlalu, akhirnya baju renang Sophia ditemukan. Lalu aku menghubungi Kesha, ingin meminta maaf karena kami sudah terlambat, sekaligus mengatakan bahwa kami baru mau berangkat. Tapi entah apa penyebabnya, Kesha tidak mengangkat telepon dariku. Aku ‘pun mencoba menelponnya untuk kedua kalinya, dan akhirnya Kesha mengangkatnya. Begitu Kesha menjawab teleponku, bukannya aku yang minta maaf, justru Kesha yang langsung meminta maaf kepadaku. Dia minta maaf karena tidak bisa menepati rencana kita kali ini. Dia bilang ada urusan mendadak dan dia berjanji akan berenang bersamaku & Sophia di lain waktu. Awalnya aku sudah putus asa, padahal semalam aku tidur larut untuk bersiap-siap. Dan saat aku sudah siap, semuanya batal… Lalu Sophia merengek minta dibawa berenang. Akhirnya kami ‘pun tetap pergi berenang meski tanpa Kesha.

Siang harinya, setelah kami puas berenang, kami berencana untuk pulang, sebelum sinar matahari benar-benar menyengat kulit kami. Dan hari itu merupakan hari yang benar-benar panas. Untuk menyejukkan diri sejenak, aku mampir membeli es krim untukku dan untuk Sophia di jalan pulang. Lalu aku dan Sophia ‘pun duduk bersama sambil menghabiskan es krim kami. Tiba-tiba, aku melihat suatu hal yang mengejutkan… Alvin berjalan sambil tertawa-tawa berduaan dengan seorang perempuan, dan mereka juga bergandengan tangan. “Kak Natalie, es krimnya jatuh, tuh. Yahh, sayang banget padahal baru dimakan setengah”, kata Sophia. Tapi aku tetap saja melototi mereka berdua, tanpa memikirkan es krimku. Terlebih lagi, orang yang bergandengan dengan Alvin adalah… “Kak Kesha!”, teriak Sophia. Kesha dan Alvin menengok, wajah mereka terlihat sangat kaget melihat keberadaanku. Alvin berusaha menarik Kesha menjauh, tapi Kesha justru berlari ke arahku. “Ma-mafkan aku! Aku tidak bermaksud merebut Alvin, hanya saja… Sepertinya kami memiliki perasaan yang sama”, kata Kesha. Jadi Kesha membatalkan rencana berenang kita karena dia ingin berkencan dengan Alvin… Jadi Alvin waktu itu memutuskanku karena sudah menyukai Kesha… Bodohnya aku ini, mengapa baru sadar sekarang?. Begitu aku menengok ke arah Alvin, dia sudah menghilang… Pe-perasaan apa ini? Kepalaku seketika pusing, dan… BRUAK!…………………. Begitu mataku terbuka lagi, kulihat sosok Ayah dan Ibuku. Mereka bilang bahwa aku jatuh pingsan, dan Kesha yang membawaku dan Sophia pulang.

Kejutan
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun telah dilewati. Sekarang aku sudah menjadi Mahasiswi jurusan arsitektur. Sedangkan Kesha dan Alvin mengambil jurusan kedokteran. Rupanya hubungan mereka tidak ada habis-habisnya. Aku, Kesha dan Alvin sedang memasuki semester ke-3 di umur 17 tahun, karena kami bertiga sama-sama pernah melakukan percepatan di SMP & SMA. Selain itu, Sophia baru-baru ini memasuki SMP, di SMP lamaku dengan Kesha dan Alvin. Ngomong-ngomong soal Sophia, sudah lama sekali aku tidak bermain bersamanya, bahkan mengobrol saja sangat jarang. Padahal Sophia sering membujukku untuk bermain bersamanya. Tapi semenjak aku mengikuti percepatan, aku jadi semakin sibuk dan waktuku semakin terkuras, jadi aku tidak sempat lagi bermain bersamanya, dan aku jadi merasa bersalah kepadanya… Tapi hari ini aku telah berniat menghabiskan waktuku seharian ini untuk bermain bersamanya. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Sophia, ulang tahunnya yang ke-12. Aku juga sudah mempersiapkan kado untuknya, yaitu sebuah kamera DSLR yang sudah lama dia idam-idamkan. Aku membelinya dengan menggunakan uang tabunganku sendiri, loh. Selain itu, aku dan Kesha juga mempersiapkan sebuah pesta kejutan. Walaupun hanya pesta kecil-kecilan, yaitu berupa beberapa hiasan pesta di kamar Sophia dan sebuah kue tart cokelat. Uangku hampir tidak bersisa setelah membeli kamera, jadi seluruh persiapan pesta dibayarkan oleh Kesha. Lalu akhirnya Sophia pulang dari sekolahnya, dia begitu terkejut dan senang akan hadiah dariku dan Kesha. Kami bertiga ‘pun mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu memakan kue bersama-sama. Kuenya benar-benar lezat, loh!. Tidak lama setelah itu… Bruak! Sophia jatuh pingsan. Lalu Kesha mengecek keadaan Sophia. Dan tanpa menjelaskan apapun, Kesha langsung menyuruhku membawa Sophia ke Rumah Sakit. Aku ‘pun membawa Sophia ke Rumah Sakit terdekat. Lalu Kesha pulang, dia bilang harus pergi ke rumah Pamannya. Beberapa saat setelah aku menunggu, akhirnya Dokter memberiku penjelasan akan keadaan Sophia. Sayangnya, penjelasan tersebut merupakan kabar buruk. Ternyata Sophia terkena Leukimia/Kanker Darah. Aku ‘pun segera mengabari Ayah & Ibuku, lalu mereka bergegas datang. Dan hari sudah menjelang malam, tapi Sophia tak kunjung bangun. Ayah menyuruhku dan Ibu untuk pulang, agar Ayah saja yang menemani Sophia. Dan akhirnya aku ‘pun pulang bersama Ibu.

Jangan Pergi, Adik Manis
Sekarang hari sudah pagi, aku ‘pun pergi ke Sekolah Sophia, memintakan izin tidak masuk kepada Wali Kelas Sophia. Setelah itu, aku pergi menjenguk Sophia di Rumah Sakit. Setibanya aku di Rumah Sakit, Ayah ‘pun pulang. Untung saja hari ini aku tidak ada kegiatan di Kampus, jadi bisa menemani Sophia seharian.

Sudah 4 bulan Sophia tidak masuk Sekolah, betapa kasihan nasibnya… Dalam jangka waktu 4 bulan inilah, Sophia berubah total hingga susah dikenal. Itu karena efek samping obat yang merontokkan rambutnya hinga habis. Apalagi dia harus melewati berbagai cara pengobatan yang sangat amat menyakitkan. Wajahnya juga sangat pucat, dan dia seringkali merasa pusing serta mual. Pilu rasanya melihat keadaan Sophia yang sekarang. Sophia sekarang jadi sangat pendiam. Jika bisa, aku mau memindahkan penyakitnya kepadaku, tapi itu mustahil. Pasti Sophia juga merindukan momen-momennya di Sekolah maupun di rumah. Seharian Sophia hanya bersandar di ranjang Rumah Sakit sambil menahan tangisan. Aku yang sehari-hari menemaninya, tepat di samping ranjangnya. Tapi dia sama sekali tidak mau mengobrol lagi denganku, dia justru sering menatap foto Almarhum Orang Tuanya dengan tatapan dalam yang membuatku luluh ke dalam kesedihannya. Sekarang semuanya sudah sangat berbeda. Setiap kali Sophia ku ajak ngobrol, dia selalu mencuekkanku. Setiap kali ku ajak dia bermain, dia selalu menggelengkan kepalanya. Semakin hari, semakin banyak orang yang menjenguk Sophia. Mulai dari Tetangga-Tetangga kami, Teman-Teman & Guru Sophia di Jakarta, bahkan Teman-Teman & Gurunya dari United Kingdom ‘pun jauh-jauh datang ke sini. Sophia dikelilingi oleh begitu banyak orang yang menyayanginya. Dan kenyataan bahwa semua orang yang mengenal Sophia menyayangi dirinya itu masuk akal, karena ku yakin tidak ada yang tidak menyukai sosok Sophia.

Rekreasi
Hari ini, seluruh keluarga besarku pergi berekreasi, tepatnya jalan-jalan ke Bali. Kami sudah berusaha keras membujuk pihak Rumah Sakit untuk membolehkan Sophia keluar walau hanya untuk beberapa hari. Usaha kami ‘pun tidak sia-sia, akhirnya Sophia dibolehkan keluar dari Rumah Sakit untuk sementara. Lagipula Sophia pasti sangat bosan di Rumah Sakit, dia juga butuh hiburan. Di perjalanan, Sophia menjadi pusat perhatian keluargaku. Semuanya memedulikan Sophia dan memayoritaskan Sophia. Tiba di Bali, kami langsung pergi mencari Pantai Kuta, Pantai yang indah sekali dan sangat populer di Bali. Di Pantai Kuta, semua bersenang-senang, kecuali aku dan Sophia. Aku mengajak Sophia bermain, tapi dia tidak menjawab ajakanku, dia terus duduk dan menundukkan kepalanya. Setelah berkali-kali aku membujuknya, dia tetap saja terdiam. Akhirnya aku ‘pun menyerah dan memutuskan untuk duduk diam saja di samping Sophia. Memang sangat sayang jika kita sudah jauh-jauh pergi ke sini, tapi tidak ikut bersenang-senang. Sangat disayangkan juga karena kami akhirnya dapat izin cuti Sophia di Rumah Sakit, tapi Sophia tetap tidak mau melakukan apapun. Tapi aku juga tidak tega bersenang-senang di saat Sophia sedang murung, terutama jika Sophia ditinggal sendirian di Rumah Sakit. Lalu malam datang, dan sekarang adalah saatnya makan malam. Menu makan malam kali ini serba seafood, jenis makanan kesukaan Sophia. Dengan riang, aku membawa 2 porsi makan malam, 1 untukku dan 1 untuk Sophia. Saat pertama kali ku ajak Sophia makan, dia tidak menjawab ajakanku. Ku pikir dia sedang tidak mau makan, seperti biasa. Lalu akhirnya ku paksa dia makan, tapi dia tetap terdiam. Melihat posisinya yang daritadi sama, aku mulai beranggapan bahwa dia sedang tertidur. Lalu aku ‘pun coba membangukannya dengan cara sedikit mengguncangkan tubuhnya, dan… Buak! Badan Sophia terjatuh, tapi dia belum juga terbangun. Dengan panik, aku langsung pergi ke arah anggota keluargaku yang lainnya. Aku menangis-nangis dan berkata kepada mereka, “Ga-gawat! So-Sophia! Sophia… Ku mohon lihat keadaan Sophia sekarang juga!” Setelah itu, kami langsung membawa Sophia ke Rumah Sakit terdekat dan Sophia langsung diberi perawataan intensif.

Jangan Pergi, Adik Manis (2)
Sudah seminggu semenjak Sophia pingsan di Bali. Sophia sudah dipindahkan ke Rumah Sakit di Jakarta, Rumah Sakit dekat rumah kami. Tapi sampai sekarang, Sophia belum juga siuman. Aku jadi merindukan mata indahnya dan tatapannya yang menyejukkan dan teduh. Lalu Kesha datang dan aku coba berbicara kepada Sophia, “Sophia… Adik cantik, bangunlah, buka matamu. Coba lihat, Kak Kesha datang ke sini untuk menjengukmu. Kak Kesha bahkan membawakanmu sebuket bunga. Ayo lihat bunganya, sangat cantik loh.” Sangat tak terduga, akhirnya Sophia membuka matanya. “Sophia?! Coba lihat apa yang Kak Kesha bawakan untukmu,” kataku sambil menyodorkan bunga pemberian Kesha kepada Sophia. “Wah, cantik… Terima kasih, kak,” jawab Sophia. Aku terharu, akhirnya aku kembali mendengar suara lembut Sophia setelah sekian lama. “Sophia, kamu tahu tidak? Banyak orang yang mengkhawatirkanmu, loh,” kata Kesha. “Sophia, maafkan aku yang selama ini selalu egois. Aku menyesal tidak menerima tawaran mainmu dulu. Aku mau mendengar suara merdumu lagi. Ayo kita mengobrol lebih lama lagi. Ku mohon, jangan terlalu sedih. Tunjukanlah semangat hidupmu! Aku selalu di sampingmu selama ini, aku di sini untukmu. Kamu tidak akan pernah sendirian, aku akan selalu ada untukmu,” ucapku dengan air mata yang mengalir perlahan-lahan. “Kak Natalie jangan menangis. Aku juga minta maaf, karena selama ini aku selalu merepotkan dan menyusahkan semuanya. Makasih ya, Kak, dan semuanya,” jawab Sophia. “Sophia, aku berjanji akan menemanimu bermain hingga puas setelah kamu sembuh. Jadi cepat sembuh, ya!,” kataku. “Aku ingin bermain sekarang. Aku takut waktu ku sudah tidak lama lagi,” kata Sophia. “Tapi kamu masih kurang sehat,” kata Kesha. “Bagaimana kalau kita main dandan-dandanan? Seperti yang biasa kita lakukan dulu,” tawarku. “Tidak, Sophia mau main petak umpet. Sophia tidak pernah main petak umpet dengan Kak Natalie dan Sophia menginginkannya sekarang,” kata Sophia. Aku khawatir akan terjadi apa-apa bila Sophia harus beranjak dari ranjang karena ingin main petak umpet. Tapi aku tidak bisa menolak permintaannya kali ini, karena sudah terlalu banyak permintaannya yang ku tolak dulu. Begitu Sophia beranjak dari ranjang, dia menolak tawaran Kesha untuk menaikkannya ke kursi roda. Lalu Sophia ‘pun mulai berjalan. Kakinya ‘pun berjalan perlahan sambil bergetar. Langkah pertama………………………………………. Langkah kedua………………………………….. Langkah ketiga………………………………………….. Langkah ke-empat………………………………………………… BRUAKK! Sophia terjatuh dan membuatku aku & Kesha sangat terkejut. “Tidak! Jangan bantu Sophia! Sophia bisa bangun sendiri!,” kata Sophia saat aku hendak membantunya bangun. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Sophia berusaha keras agar dapat bangun. Dia sudah melakukan sekuat tenaga, tapi dia tetap tidak bisa bangun. Tes… Kulihat setitik air mata Sophia jatuh ke lantai, hatiku tergores. “Kak, kita akan bermain petak umpet, ‘kan? Aku pasti bisa bangun, pasti bisa, aku harus bisa.”………………………………………………………………………………………………………….. Bruak, badan Sophia menyentuh lantai setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, denyut nadinya berhenti, dia sudah tidak bernafas. Kesha menangis, dia hanya menangis dan menangis. Aku ‘pun rasanya ingin menangis, tapi ku tahan diriku agar tidak menangis. Ku tahan dan ku tahan, lalu……………………………………………………………………… “SOPHIAAAAA!,” aku berteriak sambil akhirnya menangis. Aku sungguh tidak dapat menahan tangisan ini, air mataku turun dengan derasnya. Disaat aku dan Kesha sedang tersedu-sedu, Mama, Papa, dan Suster datang memasuki ruangan Sophia. Suster langsung memberi pertolongan pertama, lalu rupanya……………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Usaha Suster tersebut sia-sia. Ibu menangis di pelukan Ayah, lalu Ayah berkata, “Menangislah sepuasnya, keluarkan segala unek-unek kalian, jangan dipendam. Tapi setelah itu, berjanjilah pada diri kalian sendiri bahwa kalian tidak akan menangisinya lagi. Ayah yakin bahwa Sophia akan segera bertemu kembali dengan Orang Tuanya di surga. Sophia pasti bahagia.” Selamat jalan, Sophia Grace Roxanne… Farewell… TAMAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s