“Bunda Sayang Nana”

Hari ini, disaat-saat menjelang Isya, sebuah pintu terbuka, “Kreekk”…“Tuk…tuk…tuk”…“Nana, darimana aja kamu?! Masa anak gadis baru pulang jam segini?! Kebiasaan, deh, selalu lupa waktu. Mana pergi tanpa izin lagi!,” terdengar bentakan seorang wanita kepada Anaknya. “Na-Nana abis ada rapat OSIS di Sekolah, Bun, suerr, deh,” jawab seorang gadis cantik bernama Nana. “Suar-suer, huh! Mana ada orang rapat OSIS pakai sepatu hak tinggi segala! Emangnya Bunda gak denger itu suaranya pletakpletokpletakpletok!,” Bundanya Nana kembali membentak. “Besok sabtu sampai minggu, kamu gak boleh pergi kemana-mana! Kamu harus bantuin Bunda bersih-bersih rumah. Kalau gak nurut, Bunda bakal kasih hukuman seberat-beratnya! Dah, sana kamu cepat ganti baju!”

“Huuh! Betebetebete! Masa gitu doang gak boleh. Mana besok ‘kan gue ada schedule nonton di bioskop bareng Josh. Terus minggunya gue mau renang sama temen-temen. Gue harus bilang apa ke mereka? ‘Kan malu punya Bunda galak. Padahal temen-temen gue Ortunya gak sebegitu strict, kok. Tapi guenya juga bego, sih, udah ganti baju tapi lupa ganti sepatu, jadi ketahuan, deh,” kata Nana mendumel sendiri di dalam kamarnya. “Nanaaa! Cepetan turun kesini! Sepatumu diperbaiki dulu, dong, naruhnya. Cewek itu harusnya rapih. Nanti kamu dapet Suami brewokan, loh!,” teriak Bunda dari ruang tamu. “Arrgh! Apasih maunya nenek tua itu?! Bawel banget! Gue emang cewek, tapi gak gitu juga kali, gue bukan Putri Solo. I’m a teen! I want to have fun and be free! Kayak gak pernah muda aja, sih. Lagipula kalau brewokannya kayak Zayn Malik gimana? Hehehe, ‘kan lumayan, tuh…,” kata Nana kembali mendumel. Setelah itu, Nana kembali ke ruang tamu untuk merapihkan sepatunya. Dan setelah disuruh mati-matian oleh Bundanya, Nana ‘pun sholat lalu makan malam. Setelah itu, Nana langsung tertidur.

Satu malam telah terlewatkan, waktu terus berjalan, sekarang hari sudah pagi. “Nana, bangun, Na, udah pagi. Bantuin Bunda buat sarapan, yuk!,” kata Bunda sambil membangunkan Nana. “Iihh, Bunda, nih. Aku masih ngantuk tau,” gerutu Nana. “Kamu tadi shubuh bangun gak? Jangan-jangan belum sholat shubuh, ya?,” tanya Bunda. “Udah, Bunnn,” ucap Nana berbohong. Selanjutnya, Nana ‘pun beranjak dari ranjangnya. Dia mencuci muka dan tangannya, lalu membuat nasi goreng bersama Bundanya. Memasak nasi goreng merupakan hal yang mudah, akan tetapi bagi Nana yang sangattttt jarang memasak, itu merupakan hal yang sulit. Hal tersebut membuat Nana seringkali melakukan kesalahan. Tapi kesabaran Bunda tidak ada habisnya untuk mengajari Nana lagi dan lagi. “Wah, enak juga!,” seru Nana setelah menyantap habis nasi goreng buatannya. “Nah, mana hasil ulangan harianmu?,” kata Bunda. “Ulangan harian?,” tanya Nana. “Iya, semalam Wali Kelasmu bilang di Group Whats App Orang Tua Murid, katanya kemarin ada ulangan harian,” jawab Bunda. “Eh, ehm… Ohiya! Kertas ulangan harianku ketinggalan di loker Sekolah!,” kata Nana. “Hiihhh! Berani-beraninya kamu bohong. Ini apa? Bunda udah bongkar tasmu semalam,” kata Bunda sambil menjewer telinga Nana dan memegang sepucuk kertas ulangan dengan nilai merah. “Aaawww, sakit, Bun!,” Nana menjerit kesakitan. “Waktu Bunda seumuran kamu, Bunda paling kecil nilainya itu 85! Ini apa, masa cuma 31?! Ngapain aja, sih, kamu di Sekolah? Ngobrol? Bercanda? Jail? Bener-bener, deh, ini anak. Kamu lihatlah anak-anak miskin di jalanan! Mereka mau sekolah, tapi gak bisa karna gak mampu. Kamu mampu sekolah, bukannya bersyukur, malah males-malesan,” kata Bunda kembali marah. “Iyaiyaaa, Bun. Nih, Nana mau ngerjain PR dulu,” kata Nana sesaat sebelum dia pergi ke kamarnya.

Di dalam kamar, Nana kembali mengerutu, “Tiap hari ngomel mulu, gak haus apa?!” Setelah itu, Nana ‘pun mengerjakan PR IPA. Dan saat mengerjakan PRnya, Nana baru tahu bahwa secara biologi, manusia memang tidak akan haus saat marah.

Beberapa jam kemudian, “Ckckckck, bukannya bantuin Bunda malah asik internetan. Kamu gak pernah diajarin buat berbakti kepada Orang Tua apa di Sekolah? Udah, ayo sekarang beresin kamarmu! Betah aja lagi di ruangan berantakan begini. Bunda aja risih ngeliatnya. Masa anak gadis jorok begini,” ucap Bunda ketika datang memasuki kamar Nana. Dengan terpaksa, Nana ‘pun membersihkan kamarnya. Setelah selesai, Bunda masuk lagi ke kamarnya, “Nah, gini dong. ‘Kan enak, gak pengap. Sekarang kamu ke dapur, gih, cuciin piring-piring kotor, di dapur udah numpuk. Bunda mau ngepel ruang tengah dulu, kamu jangan ke ruang tengah, ya.” “Bunnnn, give me a break! I’m tired, you know!,” kata Nana mengeluh kepada Bundanya. “Ini latihan. Kalau kamu jadi Ibu Rumah Tangga, bakal jauh lebih repot lagi,” kata Bunda. Akhirnya Nana ‘pun pergi mencuci piring di dapur. Lalu, tiba-tiba Ayahnya Nana datang menambahkan piring kotor. “Ayaaahhhh! Nana udah pegel-pegel malah ditambahin lagi, gimana sih?!,” ucap Nana kesal. “Oh, ini Nana tooh! Bunda biasa digituin gak pernah ngeluh, loh,” kata Ayah. “Cieee, my Little Princess udah gede, udah bisa bantuin Bundanya ngurus rumah,” tambahnya.

Dua hari yang sangat meletihkan dan menyebalkan bagi Nana telah berakhir. Malam ini, Nana berencana untuk makan malam di sebuah Kafe bersama Josh, Pacarnya. Disaat Ayahnya belum pulang kerja, dan Bundanya sedang tugas dinas di luar kota, Nana diam-diam pergi keluar rumah dengan memakai gaun berwarna merah. Sesampainya di tempat tujuan, Nana seketika mendapatkan perasaan seakan suatu hal buruk akan menimpanya, tapi Nana mengabaikan perasaan tersebut. Lalu ia ‘pun beranjak pergi menuju pintu Kafe, di mana berdiri seorang lelaki tampan dan gagah yang telah menunggunya, ia bernama Josh. Nana mengharapkan kata-kata seperti “Hi, Babe. You look so nice with that dress” atau pujian-pujian manis lainnya yang memang sudah biasa terlontar dari bibir Josh. Tapi yang keluar dari mulut Josh justru mensyabik-nyabik hati Nana. Nana seketika tercengung, bengong, tidak percaya sekaligus merasakan sakit yang luar biasa, ketika Josh justru menyatakan bahwa dirinya ingin memutuskan hubungan mereka. Tanpa pikir panjang, Nana bergegas lari ke arah pangkalan ojek di dekat Kafe. Dan dengan baju yang sangat mencolok, Nana pulang naik ojek. Sesampainya di rumah, Nana kaget untuk kedua kalinya, karna dia menemukan sosok Bundanya di rumah. “Bunda tadi dapat semacam tekanan batin mungkin, ya? Bunda khawatir sama anak Bunda yang satu-satunya ini, jadi Bunda langsung pulang,” ucap Bunda sambil memasang senyum lebar yang amat menawan. Dengan segera, Nana ‘pun menjatuhkan dirinya ke pelukan Bundanya. Dia menangis tersedu-sedu di rengkulan hangat Bundanya. Nana baru menyadari betapa menyejukkan dan nyaman pelukan Bundanya. Bunda tidak mau melepaskan pelukan Nana walaupun baju putihnya terkena make up Nana yang luntur akibat air mata Nana yang mengalir deras tiap tetesnya. Bunda justru mempererat pelukannya, berusaha menenangkan anaknya. Setelah suasana mulai teduh, Bunda baru melepas pelukannya perlahan-lahan. Bunda tidak memarahi Nana kali ini, walaupun Nana pulang malam. Bunda bahkan tidak meminta Nana untuk menjelaskan apa yang terjadi, karena Bunda tahu hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Lalu Bunda ‘pu menyuruh Nana untuk langsung tidur, istirahatkan dirinya agar esok hari bisa lebih fresh.

“Kringgg!,” alarm Nana berbunyi. Nana terbangun dan lekas mengambil wudhu, lalu sholat shubuh. Baru kali ini suara alarm dapat terdengar di telinga Nana saat tertidur. Setelah sholat shubuh, Nana pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih, rupanya tenggorokan Nana kering. Setibanya di dapur, Nana bertemu dengan Bundanya yang sedang menyapu. Bunda tersenyum, menampakkan cahaya dalam dirinya yang begitu memukau. “Ya Allah, aku baru sadar sekarang betapa indahnya cinta dari Bunda… Ya Allah, maafkanlah Hamba-Mu ini yang telah khilaf, sempat kehilangan hidayah, sempat berbelok dari jalan-Mu,” kata Nana dalam hati. “Eh, Nana! Bunda kemarin beliin oleh-oleh Blueberry Cheesecake kesukaanmu, loh. Ambil aja di kulkas, tapi jangan ambil yang Cappuccino Muffin, ya, itu buat Ayahmu. Dan kalau mau nyicipin Truffle Cokelat punya Bunda, cicipin aja,” kata Bunda. Lalu Nana segera mengambil segelas air putih dan sepotong kue miliknya. Setelah menghabiskan Bluberry Cheescakenya, Nana ‘pun mandi pagi lalu bersiap-siap pergi ke Sekolah. Selanjutnya, Nana bersekolah dengan riang gembira, penuh semangat, rajin dan tekun.

Sekarang adalah waktunya jam pelajaran bahasa inggris, pelajaran kesukaan Nana. Dan hari ini ada jadwal ulangan harian bahasa inggris. Untuk pertama kalinya, Nana mendapatkan nilai 100! Nana melompat-lompat senang, berteriak kegirangan. Dia tidak sabar untuk menunjukkan kertas ulangan hariannya kepada Bunda. “Toktoktok,” tiba-tiba datang seseorang mengetuk pintu kelas Nana. Rupanya itu adalah Wali Kelas Nana, ia memiliki urusan dengan Nana. Nana ‘pun menghampirinya setelah dipanggil. Ternyata Wali Kelas Nana membawa kabar buruk ……………………………………………………….
Bunda Nana mengalami kecelakaan lalu lintas, dan sekarang sedang berada di Rumah Sakit, tepatnya di ruangan Unit Gawat Darurat. Kesenangan Nana yang tadi mengepul-ngepul, seketika meleleh, badannya jadi lemas, loyo. Lalu Nana ‘pun pergi ke Rumah Sakit dengan diantar oleh Wali Kelasnya.

Sesampainya di Rumah Sakit yang dituju, Nana berterima kasih kepada Wali Kelasnya, lalu Wali Kelasnya ‘pun pergi dan Nana pergi menghampiri Ayahnya di ruang tunggu. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya seorang Suster keluar dari ruangan Bundanya, membolehkan Nana dan Ayahnya untuk masuk ke dalam. Dengan langkah cepat, dengan mata merah yang sembab, bengkak dan berair serta dengan suara yang parau, Nana menghampiri Bundanya, “Bundaaaa!” “Ayah, Nana… Kata Dokter, Bunda harus dioperasi. Ayah dan Nana setuju gak kalau Bunda dioperasi?,” ucap Bunda dengan memasang senyum palsu di wajahnya. Nana langsung tertunduk diam, hening… “Kalau itu memang untuk yang terbaik, maka lakukan saja, Dok,” kata Ayah. “Tapi kalau Bunda memang sudah dipanggil Ilahi, tolong maafkan segala kesalahan Bunda. Mintakan maaf juga kepada seluruh kenalan Bunda. Ayah, Cintaku, Imamku, terima kasih untuk segalanya. Juga untuk Nana, Buah Hatiku yang cantik, jadilah wanita sukses yang sholehah. Bunda bangga sama kamu. Bunda yakin bahwa Nana bisa menjadi Wanita yang sukses dunia dan akhirat,” itulah kata-kata terakhir Bunda sebelum menjalankan operasi. Lalu akhirnya Bundanya Nana ‘pun menjalankan operasi. Setiap jam, menit, detik, detakan jantung yang dilalui selama operasi merupakan saat-saat paling menegangkan. Ayah dan Nana menunggu dengan perasaan campur aduk, gundah gulana, was-wasan, khawatir, sambil tak henti-hentinya berdoa dan berkeringat dingin. Lalu setelah sekian lama menunggu selesainya operasi, setelah sekian lama menunggu kabar lainnya mengenai Bunda, terjawab sudah hasil dari doa-doa Nana dan Ayahnya………..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rupanya Allah memiliki rencana lain, operasi yang dijalankan gagal, nyawa Bunda sudah tidak di dalam tubuhnya lagi, dan ruhnya sudah diangkat. Dokter ahli bedah keluar, memberi kabar memilukan. Dokter juga berkata bahwa kata-kata terakhir Bunda, keinginan terakhir Bunda adalah agar disampaikan pesan “Bunda sayang Nana.” Mendengar hal tersebut, Nana langsung beranjak dari tempatnya, berlari kencang, lalu berteriak kencang dan menangis kencang di hadapan seorang mayat berwajah pucat dengan senyum tipis yang tertempel di wajah mayat tersebut, Nana berkata: “Bundaaaaa! Maafin Nana, Bun, Nana minta maaf, Nana menyesal. Nana mohon, please, Bunda jangan pergi. Nana juga sayang Bunda, sangat sayang. Bun, ayo bangun! Nana gak bisa kalo gak ada Bunda, Nana gak bisa! Ayo, Bun, marahin Nana! Kali ini Nana gak bakal kesel, kok. Mana bentakan Bunda? Bunda, ngomong, Bun! Bunda masih ada, ‘kan? Nana masih punya Bunda, ‘kan?. Dokter itu pembohong! Ayolah, Bun, jangan bercanda! Bundaa, marahin lagi aja Nana, omelin aja lagi, gapapa, tapi Bunda jangan pergi. Bun, nanti siapa yang nemenin Nana di rumah? Na-nanti siapa yang masakin Nana? Nanti siapa yang ngurusin Nana? Nana harus nangis di pelukan siapa kalau bukan dipelukan Bunda? Bun, Nana butuh banget pelukan hangat Bunda sekarang juga, tapi kenapa badan Bunda justru mendingin? Nana janji gak akan nakal lagi kalau Bunda buka mata. Bun, buka mata Bunda. At least liat ini dulu, Bun. Liat, Bun, Nana dapet nilai 100. Bunda bangga, ‘kan? Katanya Bunda bangga sama Nana. Say something, Bun. Bundaaaa….” Setelah mengeluarkan seluruh isi kepalanya, Nana menjatuhkan dirinya ke lantai. Badan Nana jadi kaku, kepalanya menggeleng-geleng dengan cucuran air mata yang menuruni pipinya sampai ke dagu lalu menetes di lantai, dan Nana masih tidak percaya akan hal yang menimpanya. Mendengar apa yang diucapkan Putrinya, Ayah tak rela, tak dapat menerima kenyataan yang pahit ini, yang sangat mengiris-iris perasaannya, yang sungguh perih, pedih dan menyakitkan, Ayah ‘pun memeluk Nana dari belakang dan ikut menangis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s