“Kak Manda, ayo main lagi dengan Sophia!”

Cerita ini merupakan jilid ke-2 (lanjutan) dari cerita Farewell.

Setelah lulus kuliah S1, Alvin dan Olivia menikah, lalu membuat sebuah klinik. Selagi mereka sedang mengembangkan usaha klinik mereka, aku melanjutkan S2 di United Kingdom.

Kini aku tinggal di rumah lama Sophia. Akibat sudah lama tidak dihuni, rumahnya sudah kotor dan penuh debu. Setelah  2 hari ku habiskan untuk bersih-bersih, akhirnya rumah lama Sophia telah bersih kembali. Debunya ada lumayan banyak, jadi aku harus bekerja keras membersihkannya, sehingga keringatku tak kunjung berhenti bercucuran.

Setelah rumah bersih, kini saatnya aku untuk membersihkan badanku sendiri atau lebih tepatnya mandi. Ahhh, segarnya habis mandi. Seluruh penat, capek dan letihku telah lenyap.

Besok aku akan memulai S2 ku yang merupakan beasiswa penuh.
Sebaiknya, hari ini aku mulai berkenalan dan bersosialisasi dengan tetangga-tetangga baruku. Mungkin mereka yang tinggal di sekitar sini kebingungan, karena kedapatan seorang gadis tak dikenal yang tiba-tiba menempati rumah yang sudah tidak dihuni selama bertahun-tahun. Dan yang mereka tahu hanya sepasang Suami-Istri yang dulunya tinggal di sini telah meninggal dunia, sedangkan anaknya tidak diketahui kabarnya.

Begitu keluar dari rumah, ada seorang Ibu-Ibu yang datang menghampiriku, “Hi there. Nice to meet you. I’m Mrs. Johson and i live beside this house. May i know you?” “Nice to meet you too. I’m Amanda from Indonesia. I’m Sophia’s cousin. And since that i’m taking my postgraduate course here, i will be living here,” jawabku. “Sophia? Oh, i knew Sophia! Sophia was the little girl who ever lived here. So how’s Sophia doing? She’s fine, right?” Tanya Nyonya Johson. Pertanyaan tersebut sangat sulit ku jawab, tapi akhirnya terjawab juga. “No, she’s not,” jawabku. “What do you mean?” Nyonya Johnson kembali bertanya. “Blood cancer,” aku kembali menjawab. Dari situ, ku lihat Nyonya Johson tertegun bersama seorang anak lelaki yang datang tiba-tiba. “So-Sophia? Sophia got blood cancer?! Is she okay?” Tanya anak laki-laki tersebut. “She’s okay now… Because she’s in heaven already,” kataku dengan berat hati. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat anak lelaki tersebut begitu syok dan langsung melarikan diri. “Oh my… Poor Sophia, she’s too young. She’s very kind and very smart! We all miss her presence,” ucap Nyonya Johnson iba. “Yeah, me too,” kataku sambil menghela nafas. “Honey!” Tiba-tiba terdengar suara berat dari kejauhan. “Sweet Heart! Meet Amanda from Indonesia, she’s Sophia’s cousin. And she will be living here from now on,” ucap Nyonya Johson kepada seorang lelaki bertubuh bidang. “Nice to meet you, Amanda. I’m Mr Josh Johnson, this is Mrs Sam Johnson, and the boy who just passed by here is Alexis Johnson. We’re The Johnson Family,” ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arahku. “Amanda Carissa. Nice to meet you too,” jawabku sambil bersalaman dengannya. “So where’s Sophia? You’re bringing her here, right?” Tanya Tn. Johnson. “Sophia is with her parents right now,” jawabku. “But Sophia’s parents are…-”, ucap Tn. Johnson. “Sophia got blood cancer,” jelas Nyonya Johnson. “Oww,” jawab Tn. Johnson singkat. Sepertinya ia berusaha untuk menyembunyikan syok yang ia rasakan. “By the way, Honey, Alex is crying at home now. Can you take care of him, please?” Ucap Tn. Johnson kepada Ny. Johnson. “Ok then. See you later, Amanda” kata Nyonya Johnson kepadaku. “Oh, wait! I’d like to introduce myself to the neighbourhood. Where are the others?” Kataku. “We have no neighbour here for years, sweetie. But we’re glad to have such a nice neighbour like you,” kata Nyonya Johnson.

“Ya ampun, sebegitu berhargakah Sophia di sini?” Kataku berbicara sendiri di dalam rumah. Hari sudah gelap, tapi aku masih mengingat bagaimana Tn. Johnson berkata bahwa Alex menangisi Sophia.

“Kruyuukk,” wah, sepertinya perutku sudah kelaparan. Aku ‘pun pergi ke dapur untuk mencari makan malam. Ohya! Bodohnya aku. Gak akan mungkin ada makanan di sini. Lagipula selama 2 hari ini ‘kan yang aku masak hanya makanan mentah yang ku bawa dari Indonesia.

Lalu aku ‘pun memutuskan untuk pergi ke toko terdekat. Setelah mengendarai sepedah selama kurang-lebih 15 menit, baru ku temui sebuah supermarket.

Ternyata tempat tinggal Sophia adalah pemukiman kecil yang berada di pedalaman. Di area sekitar supermarket, ku temui pemukiman ramai penduduk.

Setelah memborong lumayan banyak makanan, aku ‘pun pulang lalu memasak di rumah dan makan malam. Ya, setidaknya aku sudah punya stok makanan, jadi tidak usah bolak-balik super market setiap hari.

“Kringgg!” Alarmku berbunyi. Aku ‘pun bangun dan lekas mematikannya. Setelah itu, aku mandi, lalu sarapan.

Terkadang aku berangkat kuliah setelah sarapan, terkadang agak siangan, dan terkadang saat siang menjelang sore. Itu tergantung jadwal mata kuliah perharinya.

Bila tidak ada mata kuliah, biasanya aku bersantai-santai di rumah, sekedar bersih-bersih rumah, masak, mengurus laundry, membaca komik, membaca novel, mendengarkan musik, menyanyi-nyanyi, menonton, bermain game, ngemil, mengerjakan tugas, dan bermedia sosial. Terkadang juga aku mencari hiburan seperti pergi berbelanja di Mall, makan di luar atau menonton di bioskop -Mall, Kafe, Restoran & Bioskop yang ku kunjungi disini letaknya berdekatan dengan Kampusku-.

Sedangkan setiap libur panjang, aku pulang kampung ke Indonesia atau Orang Tuaku datang untuk berpariwisata mengelilingi London bersamaku.

Untuk sampai ke kampus, aku butuh naik sepedah ke stasiun kereta bawah tanah di sebelah supermarket, lalu naik kereta sampai ke stasiun yang berada di seberang kampusku.

Setelah satu hari yang melelahkan di kampus, aku pun pulang. Pulang-pulang, ku teguk segelas jus jeruk dari kulkas.

“Tingtong,” tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ternyata Alex yang datang. Aku ‘pun mempersilahkannya untuk masuk. Lalu percakapan kita di ruang tamu, ‘pun dimulai…

Alexis: “Hmm. Hi, im Alexis.”
Amanda: “I’m Amanda. Nice to meet you.”
Alexis: “So, you’re Sophia’s cousin, right?”
Amanda: “Yup.”
Alexis: “What are the things that Sophia used to do in Indonesia?”
Amanda: “She attended school in Jakarta City, my place. Everyone in Indonesia like her. She’s very smart at school. I also love to play with her a lot.”
Alexis: “Thanks for being nice with Sophia. I have moral duty to you.”
Amanda: “Moral duty? You’re joking. I’m nice with Sophia because she’s nice to me.”
Alexis: “Well, then i’m apologizing for all her mistakes.”
Amanda: “She has no fault with me. Why are you so serious, kid? Is she your Girlfriend?”
Alexis: “Well, sort of… Err, maybe. Wait, what? Its not like i’m her Boyfriend.”
Amanda: “Oh, boy, just tell me that you love her. Do Sophia love you too?”
Alexis: “She did love me, but i don’t know if her feeling last.”
Amanda: “Her feeling to you is last forever.”
Alexis: “How do you know it?”
Amanda: “It must be. Well, why didn’t you ask Sophia to be your Girlfriend?”
Alexis: “I was too young that time.”
Amanda: “Oh yeah, you’re right. And how old are you?”
Alexis: “I’m 14 years old, a year older than Sophia.”
Amanda: “Oohhh. I’m 19 years old.”
Alexis: “19 years old and doing postgraduate course already?!”
Amanda: “I had acceleration class twice and passed my bachelor course with only three and a half year”
Alexis: “You’re a genius!”
Amanda: “Don’t mention it. By the way, can i just call you ‘Al’? ‘Alexis’ is kinda too long.”
Alexis: “Don’t! …Please, just, just don’t.”
Amanda: “Why?”
Alexis: “Only Sophia can call me that. You can call me Alex.”
Amanda: “Oops. I’m so sorry.”
Alexis: “No probs. Oh, i need to go now. Bye.”
Amanda: “Bye.”

Ya ampun, aku merasa bersalah banget sama Alex… Seakan-akan aku itu cuma pembawa kabar buruk ke Alex dan aku justru terus ngungkit-ngungkit masalah tentang Sophia. Alex deserve to be happy dan seharusnya aku ngebantuin Alex buat ngelupain Sophia.

“Kriingg!” Telepon genggamku berbunyi. Rupanya ada telepon dari Ayah dan Ibu. Mereka menanyakan kabarku sekaligus memberiku salam dari Olivia dan Alvin.

Setelah menutup telepon, kepalaku sakit… “Kak Manda… Kak, Kak Manda… Ini Sophia, Kak. Kak Manda masih inget sama Sophia, kan?” Terdengar suara Sophia di benakku. “Tidak, ini mustahil!” Kataku. “Kak Manda, ayo main lagi dengan Sophia!” Itulah kalimat yang terngiang-ngiang di otakku sampai belasan kali. A-apa yang ku pikirkan?! “Kak Manda, Sophia kangen sama Kak Manda. Ayo main dengan Sophia!”

“Tidakkkkkk! Sophia udah gak ada! Sadar, Manda, sadar!” Tanpa sadar, aku berteriak. Tiba-tiba Alex datang dan masuk ke rumahku terburu-buru. Alex menemukan diriku sudah terduduk di lantai.

“Al? Al, is that you?! Al, it’s me, Sophia! Al, can you hear me? I’m Sophia!” Suara Sophia kembali menghantuiku. “Wha-what is happening to you?” Tanya Alex kepadaku. Nampaknya ia sangat kebingungan. Dan sepertinya hanya aku yang dapat mendengar suara Sophia.

“Sophia, berhenti! Kau menakut-nakutiku!” Aku kembali berteriak. “Ma-maaf… Sophia cuma takut Kak Manda lupa sama aku,” jawab Sophia. “Bagaimana mungkin Kak Manda lupa! You’re my beloved sister!” Jawabku. “Kak, Sophia kangen banget sama semuanya. Tapi Sophia udah bahagia di sini sama Mommy dan Daddy. Ohya, Sophia bisa titip pesan, nggak? Tolong bilangin ke Al kalau aku masih sayang sama dia. Makasih, Kak. Dadah…,” itulah kata-kata terakhir Sophia sebelum suaranya menghilang.

“So-Sophia? Sophia? SOPHIAAAAAAAAAA!” Aku ‘pun menangis kencang, lalu seketika Alex memelukku dan menenangkanku. Walau hanya beberapa detik, tapi pelukannya sudah dapat memberikanku rasa rileks dan memberhentikan tangisanku.

“Alex, thanks so much… Sophia was here. She said that she still love you,” kataku kepada Alex. Setelah itu, pipi Alex berubah warna menjadi merah jambu. Sepertinya dia tersipu malu. Aww, manisnya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s