“Kak Natalie, ayo main lagi dengan Sophia!”

Cerita ini merupakan jilid ke-2 (lanjutan) dari cerita Bestfriendship + Love Story + Sisterhood…

Setelah lulus kuliah S1, Alvin dan Kesha menikah lalu membuat sebuah klinik. Selagi mereka sedang mengembangkan usaha klinik mereka yang membuahkan keuntungan yang cukup banyak, aku melanjutkan S2 di United Kingdom.

Kini aku tinggal di rumah lama Sophia, rumahnya sudah berdebu… Setelah bekerja selama 2 hari, akhirnya rumah lama Sophia telah bersih kembali. Debunya ada lumayan banyak, jadi aku harus bekerja keras membersihkannya, sehingga keringatku tak kunjung berhenti bercucuran. Setelah rumah bersih, kini saatnya aku membersihkan badanku sendiri atau lebih tepatnya mandi. Ahhh, segarnya habis mandi. Seluruh penat, capek dan letihku telah lenyap.

Besok aku akan memulai S2 ku yang merupakan beasiswa penuh.
Sebaiknya, hari ini aku mulai berkenalan dan bersosialisasi dengan Tetangga-Tetangga baruku. Mungkin mereka yang tinggal di sekitar sini kebingungan, karena mendapatkan seorang gadis tak dikenal yang tiba-tiba menempati rumah yang sudah tidak dihuni selama bertahun-tahun. Dan yang mereka tahu hanya sepasang Suami-Istri yang dulunya tinggal di sini telah meninggal dunia, sedangkan Anaknya tidak diketahui kabarnya.

Begitu keluar dari rumah, ada seorang Ibu-Ibu yang datang menghampiriku, “Hi, there. Nice to meet you. I’m Mrs. Johson and i live beside this house. May i know you?” “Nice to meet you too. I’m Putri from Indonesia. I’m Sophia’s cousin. And since that i’m taking my second degree here, i will be living here,” jawabku. “Sophia? Oh, i knew Sophia! Sophia was the little girl who ever lived here. So how’s Sophia doing? She’s fine, right?,” tanya Nyonya Johson. Pertanyaan tersebut sangat sulit ku jawab, tapi akhirnya terjawab juga. “No, she’s not,” jawabku. “What do you mean?,” Nyonya Johnson kembali bertanya. “Blood cancer,” aku kembali menjawab. Dari situ, ku lihat Nyonya Johson tertegun bersama seorang anak lelaki yang datang tiba-tiba. “So-Sophia? Sophia got blood cancer?! Is she okay?,” tanya anak laki-laki tersebut. “She’s okay now… Because she’s in heaven already,” kataku dengan berat hati. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat anak lelaki tersebut begitu syok dan langsung melarikan diri. “Oh my… Poor Sophia, she’s still a child. She’s not naughty, she’s kind and smart! We all miss her presence, her super cute face,” ucap Nyonya Johnson iba. “Yeah, me too,” kataku sambil menghela nafas. “Honey!,” tiba-tiba terdengar suara berat dari kejauhan, seperti suara Bapak-Bapak. “Sweet Heart! Meet Putri from Indonesia, she’s Sophia’s cousin. And she’ll live here from now on,” ucap Nyonya Johson kepada seorang lelaki bertubuh bidang. “Nice to meet you, Putri. I’m Mr Josh Johnson, this is Mrs Sam Johnson, and the boy who just passed by here is Alexis Johnson, we’re The Johnson Family,” ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arahku. “Putri Safitri. Nice to meet you too,” jawabku sambil bersalaman dengannya. “So where’s Sophia? You’re bringing her here, right?”, tanya Tn. Johnson. “Sophia is with her parents right now,” jawabku. “But Sophia’s parents are de….ad”, ucap Tn. Johnson. “Sophia got blood cancer,” jelas Nyonya Johnson. “Owh,” jawab Tn. Johnson singkat, berusaha menyembunyikan kekagetannya. “By the way, Honey, Alex is crying at home now. Can you take care of him, please?,” ucap Tn. Johnson kepada Ny. Johnson. “Excuse me, Putri,” kata Nyonya Johnson kepadaku. “Yeah, its fine. Oh! I’d like to introduce myself to all the people who live here. Where are the others?,” kataku. “We have no neighbour here for years, pretty… But we’re glad to have such a nice neighbour like you,” kata Nyonya Johnson.

“Ya ampun, sebegitu berhargakah Sophia di sini?,” kataku berbicara sendiri di dalam rumah. Hari sudah gelap, tapi aku masih mengingat bagaimana Tn. Johnson berkata bahwa Alex menangisi Sophia. “Kruyuukk,” wah, sepertinya perutku sudah kelaparan. Aku ‘pun pergi ke dapur untuk mencari makan malam. Ohya! Bodohnya aku. Gak akan mungkin ada makanan di sini. Kalaupun ada, paling-paling udah basi. Lagipula selama 2 hari ini ‘kan yang aku masak adalah makanan mentah yang ku bawa dari Indonesia. Lalu aku ‘pun memutuskan untuk pergi ke Mini Market terdekat. Setelah mengendarai sepedah selama kurang-lebih 20 menit, baru kutemui sebuah Mini Market. Ternyata tempat tinggal Sophia adalah pemukiman kecil yang berada di pedalaman. Di area sekitar Mini Market, kutemui pemukiman ramai penduduk. Setelah memborong lumayan banyak makanan, aku ‘pun pulang lalu memasak di rumah dan makan malam.

Ya, setidaknya aku sudah punya stok makanan, jadi tidak usah bolak-balik Mini Market setiap hari.

“Kringgg!,” alarmku berbunyi, aku ‘pun bangun dan lekas mematikannya. Setelah itu, aku mandi lalu sarapan.

Terkadang aku berangkat kuliah setelah sarapan, terkadang agak siangan dan terkadang saat siang menjelang sore, tergantung jadwal mata kuliah perharinya. Bila tidak ada mata kuliah, biasanya aku bersantai-santai di rumah, sekedar bersih-bersih rumah, masak, mengurus laundry, membaca komik, membaca novel, mendengarkan musik, menyanyi-nyanyi, menonton, bermain game,ngemil, mengerjakan tugas atau bermedia sosial. Terkadang juga aku mencari hiburan seperti pergi berbelanja di Mall, makan di luar atau menonton di bioskop (Mall, Kafe, Restoran & Bioskop yang ku kunjungi di United Kingdom adalah yang letaknya berdekatan dengan Kampusku). Sedangkan setiap ada liburan yang lumayan panjang, aku pulang kampung ke Indonesia atau Orang Tuaku datang untuk berpariwisata mengelilingi London bersamaku.

Untuk sampai ke Kampus, aku butuh naik sepedah ke Stasiun Kereta Bawah Tanah di sebelah Mini Market, lalu naik kereta sampai Stasiun yang berada di seberang kampusku.

Haduhhh, hari pertama aku kuliah adalah hari yang paling melelahkan. Pulang-pulang, ku teguk segelas jus jambu dari kulkas. “Tingtong,” tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ternyata Alex (Teman Bermain Sophia sejak bayi) yang datang, aku ‘pun mempersilahkannya untuk masuk. Lalu percakapan kita di ruang tamu, ‘pun dimulai…

Alexis: “Hhmm. Hi, im Alexis.”
Putri: “I’m Putri. Nice to meet you.”
Alexis: “So, you’re Sophia’s cousin, right?”
Putri: “Yup.”
Alexis: “What are the things Sophia did in Indonesia?.”
Putri: “She attend school in Jakarta City, my place. Everyone in Indonesia like her. She’s smart like at every school subjects in Indonesia. I also love to play with her a lot.”
Alexis: “Thanks for being nice with Sophia. I have moral duty to you.”
Putri: “Moral duty? You’re joking. I’m nice with Sophia because she’s nice to me.”
Alexis: “Well, then i’m apologizing for all her mistakes.”
Putri: “She has no fault with me. Why are you so serious, kid? Is she your Girlfriend?”
Alexis: “Well, sort of… Erh, maybe. Wait, what? Its not like i’m her Boyfriend.”
Putri: “Oh, boy, just tell me that you love her. Do Sophia love you too?”
Alexis: “She did love me, but i don’t know if her feeling last….”
Putri: “Her feeling to you is last forever.”
Alexis: “What do you mean? How do you know it?”
Putri: “It must be. Well, why didn’t you ask Sophia to be your Girlfriend?”
Alexis: “I was too young that time.”
Putri: “Oh yeah, you’re right. And how old are you?”
Alexis: “I’m 14 years old, a year older than Sophia.”
Putri: “Oohhh. I’m 19 years old.”
Alexis: “19 years old and doing second degree already?!”
Putri: “I had acceleration class twice and passed my first degree with only three and a half year”
Alexis: “You’re a genius!”
Putri: “Nonono, don’t call me that. And by the way, can i just call you ‘Al’? “Alexis’ is too long.”
Alexis: “Dont!… Please, just, just don’t.”
Putri: “Why?”
Alexis: “Only Sophia can call me that. You just call me Alex.”
Putri: “Oops. I’m so sorry.”
Alexis: “No probs. Oh, and i’m going now, bye.”
Putri: “Bye.”

Ya ampun, aku merasa bermasalah banget sama Alex… Seakan-akan aku itu cuma pembawa kabar buruk ke Alex dan aku justru terus ngungkit-ngungkit masalah tentang Sophia. Alex deserve to be happy dan seharusnya aku ngebantuin Alex buat ngelupain Sophia.

“Kriingg!,” telfon genggamku berbunyi, rupanya ada telepon dari Mama dan Papa, mereka menanyakan kabarku, sekaligus memberiku salam dari Kesha dan Alvin.

Setelah beberapa bulan aku tinggal di United Kingdom, Kesha melahirkan. Begitu ku lihat foto anaknya Kesha & Alvin, aku merasa wajahnya sangat mirip dengan Sophia. “Ngaco kamu! Anakku cowok tau! Orang jelas-jelas mirip Alvin. Alvin sama Sophia beda jauh tau,” kata Kesha. Apakah benar yang dikatakan Kesha? Apa aku hanya berkhayal? Aku merasa seperti orang bodoh yang sedang berkhayal tidak jelas…Kepalaku sakit…, “Kak Natalie… Kak, Kak Natalie… Ini Sophia, kak. Kak Natalie masih inget sama Sophia, ‘kan?”, terdengar suara Sophia di benakku. “Tidak, ini mustahil!”, kataku. “Kak Natalie, ayo main lagi dengan Sophia!,” itulah kalimat yang terngiang-ngiang di otakku sampai belasan kali. A-apa yang ku pikirkan?!. “Kak Natalie, Sophia kangen sama Kak Natalie. Ayo main dengan Sophia!.” “Tidakkkkkk! Sophia udah gak ada! Sadar, Putri, sadar!,” tanpa sadar, aku berteriak. Tiba-tiba Alex datang dan masuk ke rumahku terburu-buru. Alex menemukan diriku sudah terduduk depresi di lantai. “Al? Al, is that you?! Al, it’s me, Sophia! Al, can you hear me? I’m Sophia!”, suara Sophia kembali menghantuiku. “Wha-what is happening to you?,” tanya Alex kepadaku. Nampaknya ia sangat kebingungan. Dan sepertinya hanya aku yang dapat mendengar suara Sophia. “Sophia, berhenti! Kau menakut-nakutiku!,” aku kembali berteriak. “Ma-maaf… Sophia cuma penasaran apa Kak Natalie udah lupa sama aku,” jawab Sophia. “Bagaimana mungkin aku melupakanmu! You’re my beloved sister!,” jawabku. “Kak, Sophia kangen banget, loh, sama semuanya. Tapi Sophia udah bahagia di sini samaMommy dan Daddy. Ohya, Sophia bisa titip pesan, nggak? Tolong bilangin ke Al kalau aku masih sayang sama dia. Makasih, Kak. Dadah…,” itulah kata-kata terakhir Sophia sebelum suaranya menghilang. “So-Sophia? Sophia? SOPHIAAAAAAAAAA!,” aku ‘pun menangis kencang, lalu seketika Alex memelukku, dia menenangkanku. Walau hanya beberapa detik, tapi pelukannya sudah dapat memberikanku rasa rileks dan memberhentikan tangisanku. “Alex, thanks so much… By the way, Sophia said that she still love you,” kataku kepada Alex. Setelah itu, pipi Alex berubah warna menjadi merah jambu. Sepertinya dia tersipu malu, hihihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s