“Namaku Tia”

“Kriing!” Bel tanda masuk kelas berbunyi. Tapi hari ini, kelas yang ku masuki bukanlah kelas yang biasa ku masuki.

“Haaiii! Aku Via Dewi, pindahan dari Solo. Inget, ya, Via bukan Tia! Jangan sampai ketuker sama kembaranku!” Samar-samar, terdengar suara seorang anak perempuan dari kelas sebelah.

Dan kini giliranku untuk berbicara di depan kelas, “Salam kenal. Namaku Tia Dewi, pindahan dari Solo. Aku kembarannya Via yang di kelas sebelah.”

Setelah memperkenalkan diri, aku pun menduduki sebuah kursi di tengah ruangan, lalu mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

“Kriinng!” akhirnya yang ku tunggu-tunggu terdengar juga, yaitu bel istirahat. Begitu bel berbunyi menandakan selesainya pelajaran, aku beranjak keluar kelas, lalu menemui seseorang yang tidak lagi asing bagiku.

“Tiaaa! Hey, liat, deh, aku udah dapet temen, loh! Ini Lyli, ini Intan. Kamu udah dapet temen belum?” Tanya Via kepadaku saat lewat dan menghampiriku. “Belum,” balasku.

Bagiku, Lyli itu imut! Badannya mungil, rambutnya pendek, dan punya 2 lesung pipit. Sedangkan Intan adalah seorang perempuan jangkung yang tirus dan berambut panjang.

“Eh, liat, deh! Ada cewek cantik baru di Sekolah kita! Itu tuh yang kembar, Via & Tia. Hmm, tapi apa perasaanku aja ya? Kayanya lebih manis Via, hehe…”

Aku mendengar orang-orang di Kantin berbisik mengenai aku dan Via. Ya, mungkin karena kami kembar. Tapi aku tahu diri, aku sadar bahwa Via selalu lebih unggul tipis dariku, termasuk dalam hal kecantikan.

Hari demi hari terlewatkan. Setiap hari, ada saja yang mengira diriku sebagai Via. “Namaku Tia, bukan Via!” Itulah kata-kata yang ada di benakku sekarang.

Selain perbedaan fisik kami yang sangat tipis, Via lebih populer daripada aku. Baru masuk sebulan aja, sudah ada banyak cowok yang menaksirnya di sekolah. Tapi Via cuek akan hal itu, karena dia sudah punya Long Distance Relationship (hubungan jarak jauh) dengan seseorang di Solo.

Ohya, ngomong-ngomong, di sekolahku, setiap Murid harus mengikuti kegiatan klub di Sekolah. Aku dan Via mengikuti Klub Musik. Aku bisa bermain gitar sedangkan Via bisa bermain piano. Ku akui, Via memang ahli memain piano. Itulah sebabnya dia selalu dielu-elukan di klub musik. Tidak sepertiku yang bakatnya sudah terlalu “mainstream”.

Via is perfect. Nilai rata-rata rapornya selalu tertinggi di angkatan. Walaupun nilaiku adalah tertinggi kedua, tapi siapa yang peduli dengan si nomor dua?

Sampai suatu ketika aku berada di titik jenuh. Aku pun muak. It’s enough! I’m Tia, not Via! I knew Via and i are alike, but please don’t compare us. You all are too busy praising Via and forgetting about me. Please, please stop it right away. I’m sick with all these, it sucks!

Today, this Saturday, it’s me and Via’s sweet 17 birthday. Mama mengajak kami ke sebuah restoran kesukaan kami untuk menyantap kue pesanan Mama.

Oreo Ice Cream Cake, itulah kue kesukaanku dan Via yang sedang ku santap sekarang. Tapi sayangnya, tanpa menjelaskan alasannya, Via lebih memilih untuk menyendiri di kamarnya tanpa pergi menyantap kue lezat ini bersamaku.

Setelah kenyang, kami berjalan-jalan ke mall untuk membeli kado ulang tahunku dan Via.

Sepulangnya aku bertemu dengan Via yang sedang tertidur di kamar. Lalu ku temui hpnya masih dalam genggamannya saat tidur. Karena penasaran, aku lihatlah isi hpnya, yaitu chatnya dengan pacarnya, Niko namanya…

Niko: Happy birthday, Sweetie! Makin cantik, makin pinter, pokoknya makin++ All the best for you. Semoga semua wishesnya terkabul, amiin. Ohya, tunggu kiriman kado dariku, ya!
Via: Makasih, Niko! Makin sayang sama aku yaa
Niko: Siip. Ada yang mau kamu curhatin lagi gak masalah sekolahmu di sana?
Via: Well, i’m really famous here, you know. They says i’m Miss Perfect or The Queen Of Perfection. Hahaha i’m such a show off. Tapi… temen-temen sekelasku ya masih mojokin aku kayak biasa. Bahkan Lyli dan Intan yang selama ini ku anggap sahabat, mereka ternyata cuma ngegunain aku buat nyontek PR. Ngomong-ngomong, kamu juga harus fokus sekolah. Jangan sampai keganggu sama aku. Aku gak usah terlalu dikhawatirin. I’m fine. I’m strong.

Mataku berair. Setelah aku selesai membaca chatnya, tiba-tiba Via terbangun. Aku pun langsung menaruh hpnya. “Vi, sorry tadi gue baca chat lu sama Niko. Kalau lu ada masalah, cerita ke gue ya,” ucapku.

Aku tak menyangka akan apa yang terjadi pada Via. Padahal aku kira hidup Via sudah sempurna dan aku sangat iri kepadanya.

“Vi, stay strong ya. You’re not alone. I’m with you. Kalau butuh apa-apa bilang ke gue aja ya,” ucapku. “Thanks, Ti,” balas Via.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s