Nana Mau Nyusul Bunda

Cerita ini merupakan jilid ke-2 (lanjutan) dari cerita “Bunda Sayang Nana.”
Waktu terus berjalan… Hari-hariku terasa sangat membosankan… Bagai tak ada motivasi hidup… Bagai kehilangan keinginan untuk hidup… Aku kehilangan arah… Aku tidak tahu kemana aku harus pergi… Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan… Hanya berjalan mengikuti arus dunia… Tak ada satu ‘pun yang dapat menghiburku… Sudah 2 bulan yang lalu Bunda meninggal dunia, tapi aku belum dapat merelakannya… Hubunganku dengan Ayah justru terus menjauh…Tidak ada semangat untuk melakukan hal apapun, membuatku hanya tidur dan makan seharian… Berat badanku terus menaik, tapi aku tak memedulikannya…Dulu Bunda selalu membatasi pergaulanku, sekarang aku justru tidak dapat bergaul lagi…

Baru-baru ini, aku menginjak dunia SMA. Mengenakan seragam putih abu-abu adalah hal yang sudah lama ku idam-idamkan. Tapi sekalinya idamanku terwujudkan, tak ada rasa bangga yang muncul…Justru sedih, sedih dan sedih… Sedih karna Bunda tidak sempat melihatku memakai seragam ini…Sedih karna Bunda tidak sempat melihat nilai-nilaiku membaik…Sedih karna Bunda tidak sempat melihatku menghapus kebiasaan-kebiasaan jelekku yang dulu…Aku tahu, Tuhan adalah Penulis Skenario terbaik, ini semua pasti ada alasannya, ini pasti yang terbaik, tapi kenapa aku tidak dapat merasakan satu ‘pun kebaikan yang ku peroleh dari kejadian ini?.

Setiap hari, ada saja yang meledekku gendut dan tidak punya Ibu. Tapi aku cuek, tidak peduli, walau tidak punya teman seorang, ‘pun. ‘Depresi,’ itulah kata yang tepat untuk menjelaskan keadaanku sekarang. Bunda sudah tiada, tidak ada lagi yang menunjukkanku arah yang benar di dunia ini… Aku sudah tersesat…

Tengah malam, aku terbangun, terus memikirkan Bunda. Aku tidak dapat tidur. Ku lihat sebuah cutter tajam tergeletak di atas meja belajarku. Seakan tergoda ataupun terasuk setan, ku ambill cutter tersebut, lalu ku matikan lampu kamar. Di dalam kegelapan, aku mencoba untuk membuat sebuah goresan seni dengan cutter ini…Tes…semacam cairan merah pekat yang agak kental mengalir dari pergelangan tanganku… Bunda, Nana kesakitan, Bun… Tapi Nana juga sekaligus lega, entah kenapa, sangat lega… Kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang, aku ‘pun mulai kehilangan keseimbangan, dan…bruakk..

Aku terbangun, mencoba untuk membuka mata. Apakah aku sudah sampai di Surga? Tidak, aku mencium bau infus dan obat-obatan… Aku berada di Rumah Sakit. Yap, di Rumah Sakit tempat Bunda dulu di operasi, tempat yang paling ku benci. Dengan pandangan kabur, ku lihat sosok Ayahku, “Ayah? Ayah, yang membawa Nana ke sini? Kenapa, Yah? Ayah ‘kan tahu kalau Nana benci tempat ini. Apa Ayah mencoba untuk menyelamatkan Nana? Untuk apa, Yah? Gak ada gunanya Nana di sini, Yah. Jangan selamatkan Nana, Nana mau nyusul Bunda.” Raut wajah Ayah berubah, entah berubah menjadi apa, karna pandanganku masih kabur… Na-nafasku sesak… “Nana capek hidup, Nana mau nyusul Bunda aja. Maaf, Ayah, dadah…,” Mataku tertutup lagi, semoga saja aku tidak akan terbangun lagi untuk selama-lamanya.

Mataku terbuka lagi. Di manakah sekarang aku? Di Surga, ‘kah? Ku lihat seseorang berpakaian putih-putih. Bunda, apakah itu Bunda? Aku mendekatinya. Bukan, itu sepertinya bukan Bunda. Apakah itu Malaikat? “Malaikat, tolong bawalah aku ke Bunda,” ucapku. Orang berpakaian putih tersebut menengok, ternyata Ayah. “Ayah, Nana bilang jangan selamatin Nana. Nana mau nyusul Bunda,” kataku. Ayah terdiam dengan muka sedih, terlihat dirinya cemburut, hihihi, kok lucu ya…Testes… Jarang-jarang aku melihat Ayah menangis… Sosok pria gagah yang bertubuh besar dan berhati lapang ini menangis tanpa suara. Diamnya merupakan teriakan terbesar dan terkuat yang pernah ku rasakan. Tiba-tiba aku sudah berada di dalam pelukannya… Hangat, seperti pelukan Bunda…Seketika, aku merasa seperti Ayah bertelepati kepadaku, “Nana, Ayah juga ngerasain apa yang Nana rasain. Ayah ngerti gimana keinginanmu untuk meninggalkan dunia ini, karna Ayah juga mau. Ayah juga sedih, kehilangan semangat, karna kehilangan sosok wanita yang kita berdua cintai. Tapi Ayah yakin kalau Bunda juga mau agar kita berdua hidup bahagia. Ayah juga yakin kalau masih ada cara yang lebih baik selain bunuh diri. Bagaimana kalau kita tetap hidup di dunia ini berdua?. Ayah mohon, jangan tinggalkan Ayah sendirian, Na… Ayah takut kehilangan lagi. Karna cinta Ayah ke Nana, sama seperti cinta Bunda ke Nana.” “Ayah… GAK! Ayah bodoh! Ayah sok tau! Ayah gak ngerti dan gak akan ngerti! Dasar Ayah Pembohong!,” bentakku. Aku ‘pun menangis kencang di pelukan Ayah yang  juga menangis…

Keesokan harinya, aku keluar dari Rumah Sakit dan kembali bersekolah. Tapi saat jam istirahat, Setan kembali berbisik di dadaku. Sekarang mataku tertuju pada sebuah tali tambang yang tergantung di langit-langit di gudang Sekolah… Memang terbesit dipikiranku suatu hal mengerikan, “Bun, Nana takut, Bun…” Tiba-tiba pergelangan tanganku merasa nyeri, untuk kesekian kalinya, karena luka ku belum benar-benar sembuh. Tubuhku gemetar, mulai memegang tali tambang… Sekarang  tubuhku sudah melayang di udara, dengan leher tergantung di tali. “Nanaa!,” tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari ke arahku. Siapa dia? Aku bahkan tak mengenalnya. Tapi sekarang dia tengah sibuk melepaskan simpul tali yang mengaikatkan diriku. Dia berusaha keras, walau talinya tak kunjung terlepas, tapi dia masih berusaha. Sepertinya setengah jam telah terlewatkan, dia masih belum menyerah, walau terlihat jelas tubuhnya berkeringat deras. Tiba-tiba, dia melakukan sebuah kesalahan, taliku justru mencekik lebih erat, nafasku semakin sesak… “Naaa, kenapa kamu begini, Na? Ngapain, sih? Ada masalah apa kamu sampai kayak gini?,” lelaki tersebut telah menyerah, dia menangis sambil terduduk tunduk di depanku…

“Nana sudah bangun?,” terdengar suara seorang Guru Wanita. Sepertinya tadi aku jatuh pingsan. “Ayo, minum dulu, ini ada susu. Mukamu pucat banget, loh. Tadi Arka yang membawamu ke sini. Dia menopangmu saat tubuhmu sudah lemas, dan Ibu menemukan bekas tali di lehermu. Kamu ada masalah apa?,” tambah Guruku. “Kalau gak mau cerita, yasudah,” kata Bu Guru. “Bu, Arka siapa?,” tanyaku. “Kakak kelasmu, dia kelas 11,” jelas Bu Guru. “Oh, jadi dia yang disebut Arka. Tapi untuk apa dia memedulikanku? Seharusnya dia tidak menolongku,” kataku dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s