Dongeng Lucy (Drama 30 Menit)

Prolog: “Pada suatu masa, hiduplah seorang wanita bernama Elsa yang sangat cantik. Akan tetapi, ia memiliki watak yang jahat. Ia selalu berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia juga mempunyai sebuah cermin ajaib . Cermin tersebut akan menunjukan segala hal yang menghalangi kekuasaannya. Selain itu, ia mempunyai seorang Asisten  yang bernama Servantat. Servantat  juga memiliki watak yang jahat. Pada suatu hari, Elsa yang biasa memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘Putri’ sedang bercermin…”

Elsa: “Wahai, cermin ajaib! Tunjukanlah kepadaku siapakah orang yang paling cantik di dunia ini!”

Cermin: “Anda, Tuan Putri.”

Elsa: “Siapakah orang yang paling kuat di dunia ini?”

Cermin: “Anda, Tuan Putri.”

Elsa: “Siapakah orang yang paling hebat di dunia ini?”

Cermin: “Anda, Tuan Putri.”

Elsa: “HAHAHA! Lalu siapakah orang yang paling pantas menikah dengan Budi Anduk?”

Cermin: “Anda. Andalah yang terpantas, Tuan Putri.”

Elsa: “APA?!”

Cermin: “Ma-maksud saya…  Yang pasti bukan anda. Namun, ada seorang wanita yang dapat menghancurkan keistimewaan anda jika Tuan Putri tidak melenyapkannya.”

Elsa: “HAH, SIAPA DIA?!”

Cermin: “Namanya Lucy, Tuan Putri *3C – Putri Impian*. Ia berasal dari kalangan bangsawan terkenal yang berparas cantik dan baik hati.”

Elsa: “Yang benar saja! Jangan kurang ajar, ya! Cuma saya yang pantas dibilang cantik!”

Cermin: “Benar, Putri. Ia merupakan Anaknya Ratu Flow.”

Prolog: “Karena kesal,  Elsa ‘pun mulai menyusun rencana untuk menyiksa Lucy. Mula-mula, ia menyuruh Servantat untuk membunuh Ibu Lucy yang bernama Ratu Flow, dengan cara memberikannya racun.”

Elsa: “Servantat!”

Servantat: “Iya, Tuan Putri.”

Elsa: “Ini! Buatlah sebuah makanan menggunakan racun ini lalu jual lah ke Ratu Flow, Ratu di kota sebelah. Untuk menjualnya, berpura-puralah menjadi orang miskin agar Ratu Flow merasa kasihan dan ingin membelinya. Cepat kerjakan!”

Servantat: “Baik, Tuan Putri.” (lalu pergi)

Prolog: “Sedangkan di dalam Istana yang terletak di kota sebelah, kota sono, noh *nunjuk* terdapat seorang Ratu bernama Flow yang sedang berbincang-bincang kepada anak satu-satunya, yaitu Putri Lucy.”

Flow: “Lucy, Anakku, hari ini, Ibu akan memberi tahumu mengenai Ayahmu.”

Lucy: “Baik, Bu. Aku memang penasaran mengenai Ayahku.”

Flow: “Ayahmu telah meninggal sebelum kamu lahir. Ia meninggal karena ia menderita sebuah penyakit aneh selama 7  tahun. Sedangkan kalung ini berasal dari Nenek Buyutmu. Sekarang, Ibu serahkan ini kepadamu. Jaga kalung ini baik-baik. Kalung ini akan membantumu jika kamu dalam kesulitan dan jika Ibu tidak bisa membantumu lagi.”

Lucy: “Baik, Ibu. Lucy akan mengingat hal itu. Lucy pamit pergi dulu. Ada acara yang harus Lucy hadiri.” (salim ke Flow lalu pergi)

Lucy: “Assalamu’alaikum.”

Flow: “Wa’alaikum Salam.”

Prolog: “Beberapa saat setelah Lucy pergi, datanglah Servantat. Servantat menyamar sebagai penjual makanan, dan dalam makanannya terdapat racun dari Elsa.”

Servantat: “Toktoktok. Permisi, Bu” (mengetuk pintu sambil membawa cupcake)

Flow: “Iya. Ada apa, ya?”

Servantat: “Tolong saya, Bu. Anak saya sedang sakit dan saya harus membelikannya obat, tapi saya tidak mempunyai uang untuk membeli obat yang sekarang sangat mahal-mahal.”

Flow: “Wah, kasihan sekali. Sebentar, ya. (mengambil uang) Ini, ambilah dan belilah obat untuk anakmu.”

Servantat: “Maaf, Ratu, saya tidak bisa menerima uang anda begitu saja. Akan tetapi, saya akan merasa senang jika anda tidak keberatan untuk membeli cupcake buatan saya ini.”

Flow: “Baiklah, saya beli. Sepertinya enak.”

Servantat: “Terima kasih, Ratu. Silahkan cupcakenya.” (tukeran cupcake & uang dengan Flow)

Prolog: “Lalu Ratu Flow ‘pun langsung melahap cupcake yang ia beli dari Servantat. Ia makan cupcake tersebut di depan Servantat. Saat asyik melahapnya, tiba-tiba Ratu Flow merasa kesakitan di bagian lehernya, dan Ratu Flow ‘pun tergeletak tak berdaya di depan Servantat.”

Servantat: “HAHAHAHAHAHA! Tugasku di sini sudah selesai!”

Prolog: “Tidak lama setelah itu, datanglah Lucy, lalu Servantat ‘pun kabur. Sedangkan Lucy melihat Ibunya tergeletak di lantai.”

Lucy: “Ibu?! Ibu kenapa, Bu? Buuu, bangun! Bu, bangun!”

Prolog: “Servantat yang kabur, pergi kembali ke rumah Elsa, dan di rumah Elsa…”

Elsa: “HAHAHAHA! Kerja yang bagus!”

Servantat: “Apakah ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Putri?”

Elsa: “Hhhmm, selanjutnya adalah…asdfghjkl” )berbisik)

Prolog: “Setelah menyusun sebuah rencana jahat lainnya, Elsa dan Servantat segera berkemas kemas dan pergi ke Rumah Lucy. Sesampainya di Rumah Lucy…”

Elsa & Servantat: “Toktoktok.” (mengetuk pintu sambil membawa ransel)

Lucy: “Hhhm, ada perlu apa?”

Elsa: “Wah, Lucy sudah terlihat sangat dewasa. Ohya, kami turut berduka cita atas meninggalnya Tante Flow.”

Lucy: “Maaf, kalian siapa, ya?”

Servantat: “Aku adalah Servantat dan ini Elsa. Kami adalah Anak dari Adiknya Ayahmu. Sebagai Kakak Sepupumu, kami akan merawatmu di sini  mulai hari ini.”

Lucy: (Wajah terkejut sekaligus bingung)

Elsa: “Iya, Sayang. Bisakah kau tolong bawakan tas-tas kami? Kami sangat kelelahan.”

Lucy: “Duh, berat banget,sih…” (membawa ransel Elsa & Servantat)

Elsa: “Eh, tunggu!”

Lucy: “Ada apa?”

Elsa: “Hhhm, sepertinya kamu kurang cocok mengenakan baju itu. Ini lebih pantas! Hihihi.” (melempar baju lusuh ke Lucy)

Servantat: “Ohya, di manakah kita akan tidur malam ini?”

Lucy: “Maaf, di sini hanya ada dua kamar. Satu kamarku dan satu kamar Ibuku.”

Elsa: “Kamar seorang Ratu, ya? Hhmm, boleh juga. Baiklah aku akan tidur di sana malam ini.”

Lucy: “Tapi, Kak…”

Elsa: “Gak pake tapi-tapi-an! segera rapihkan kamar baruku dan kamarmu. Biarkanlah Servantat tidur di kamarmu.”

Lucy: “Maaf, Kak. Tapi ‘kan Kakak di sini sebagai Tamu, kok kurang sopan?”

Elsa: “Heh, pake nantang-nantang segala lagi. Udah, gak usah buat masalah sama aku. Kerjain aja apa yang aku bilangin, cepetan!”

Lucy: “Lalu aku tidur di mana?”

Elsa: “Mana kakak pikirin. Di dapur kek, ruang tamu kek, terserahlah.”

Prolog: “Setelah itu, Lucy yang kesal ‘pun mencoba untuk menahan amarahnya. Lalu ia pergi ke kamarnya untuk merapihkannya. Namun di kamar, Lucy justru menangis terisak-isak.”

Lucy: “Ibuuu. Ibu harusnya jangan tinggalin Lucy, Bu. Lucy bisa apa? Ibuuu…” (nangis lalu pake baju lusuh)

Prolog: “Sedangkan di waktu yang sama, di halaman belakang Istana Kerajaan Laucentra…”

Laucentra: “Brian, Anakku…”

Brian: “Ya, Ayah, ada apa?”

Laucentra: “Besok, engkau akan berulang tahun. Ayah mau kamu bersenang-senang di hari ulang tahunmu. Untuk itu, Ayah berencana untuk membuatkan sebuah perayaan khusus untukmu berupa Pesta Dansa.”

Brian: “Pesta Dansa? Wah, terima kasih, Ayah!”

Laucentra: “Tapi Ayah akan mengundang seluruh Rakyat kita ke Pesta Dansa tersebut, termasuk para gadis. Apakah kamu setuju?”

Brian: “Asalkan engkau senang, aku mau. Tidak akan ada perintah Ayah yang tidak aku setujui.”

Laucentra: “Lagipula, di umurmu yang matang ini, sebaiknya kamu segera mencari seorang perempuan untuk dijadikan pendamping hidupmu. Maka dengan itu, relakah kau jika Ayah menjodohkanmu di pesta dansa tersebut? Ayah yakin bahwa pilihan Ayah tidak akan mengecewakanmu.”

Brian: “Baiklah, Ayah. Aku percayakan hal ini kepadamu.”

Prolog: “Pada malam harinya di rumah Lucy…”

Elsa:  “Lucyyyy! Mana makan malamnya?”

Lucy:  “Ini makanannya. Maaf telat, Kak.” (membawa 3 piring)

Servantat: “Maaf, maaf! Tiada maaf bagimu!”

Prolog: “Lucy ‘pun pergi mengambil minum. Sedangkan Servantat & Elsa menghabiskan seluruh makanannya dalam sekejap.”

Servantat: “Alhamdulillah. Kenyaaang.”

Lucy: “Lah, kakak menghabiskannya? Lalu aku makan apa?” (membawa gelas)

Elsa: “Kamu ‘kan bisa membuatnya lagi.”

Lucy: “Tapi semua bahan makanan sudah habis.”

Servantat: “Yaudah, beli aja sana!”

Prolog: “Setelah itu, Elsa & Servantat pergi meninggalkan Lucy yang sendirian di hari ulang tahunnya yang ke-21.”

Lucy: “Ya Tuhan, mengapa ini semua terjadi kepadaku? Mengapa semua orang yang ku sayang pergi meninggalkanku dan justru datang orang-orang yang menyiksaku? Aku salah apa? Tuhan, bantulah aku.” *Gita Gutawa – Ayah Dengarlah*

Prolog: “Tiba-tiba, munculah seorang Ibu Peri.”

Ibu Peri: “Triiiingg!”

Lucy: “Wah, Siapa kamu?!”

Peri: “Aku adalah Ibu Peri dari kalungmu. Janganlah bersedih, Lucy. Aku akan membantumu.”

Prolog: “Ibu Peri tersebut membawa sebuah kue ulang tahun.”

Peri: “Ini untukmu dari mereka yang di atas. Ingat, mereka masih menyayangimu dan masih mengingat hari ulang tahunmu.” (memberi cupcake dengan lilin)

Lucy: “Wah, sepertinya enak! Terima kasih, Ayah, Ibu dan Peri…”

Lucy: “Lah, mana Perinya?” (peri hilang)

Prolog: “Keesokan harinya…”

-Laucentra mengetuk pintu, lalu Lucy membukakan pintu-

Laucentra: “Hai, Lucy. Kau sudah terlihat sangat dewasa.”

Lucy: “Raja Laucentra?!”

Elsa: “Siapa dia?” (berbisik kepada Lucy)

Lucy: “Keluarga jauhku.”

Laucentra: “Kemarin Pelayan saya berkata Ratu Flow telah meninggal. Apakah itu benar?”

Lucy: “Benar…”

Laucentra: “Aku turut berduka cita atas hal tersebut. Ohya, maukah kau datang ke Pesta Dansa nanti malam sebagai acara ulang tahun Putraku, Pangeran Brian?”

Lucy: “Wah, aku sangat mau!”

Laucentra: “Baiklah, ini undangannya. Kami akan menunggumu. Sampai jumpa.” (memberi undangan)

Lucy: “Ya. Terima kasih, Raja.”

Laucentra: “Sama-sama.” (pergi)

Prolog: “Di sore harinya…”

Elsa: “Lucyyy! Ambilkan tasku!”

Lucy: “ Baik, Kak!” (pergi mengambil tas jinjing & sepatu dan melepas baju lusuh)

Servantat: “Lucyyyy! Ambilkan sepatuku!”

Elsa: “Heh, hanya aku di sini yang boleh meneriakinya!”

Servantat: “Ma-maaf, Putri Elsa…”

Prolog: “Beberapa saat setelah itu…”

Lucy: “Kak Elsa, ini tasnya, dan ini sepatu Kak Servantat. Ayo berangkat! Aku sudah siap.”

Elsa: “Apa-apaan kamu?! Tidak ada yang membolehkankamu untuk pergi. Sudah, sana cuci piring!” (pergi sambil membawa undangan pesta dan topeng)

Prolog: “Lalu Elsa ‘pun pergi dengan Servantat, dan munculah Ibu Peri.”

Lucy: “Ibu Peri?! Ku mohon, Ibu Peri, bantu aku!” *Cherry Belle – Dilema*

Peri:  “Tenanglah, Lucy, tenang. Pergilah ke Pesta Dansa tersebut. Kupastikan Elsa & Servantat tidak akan mengenalimu.” (nyihir Lucy pake tongkat ajaib)

Lucy: “Terima kasih, Ibu Peri!”

Prolog: “Di Kerajaan Laucentra, orang-orang sudah ramai berkumpul. Semua orang sibuk mengobrol sambil mengenakan topeng mereka masing-masing. Karena di pesta ulang tahun Pangeran Brian kali ini, semua orang diharuskan untuk memakai topeng. Dan di tengah-tengah riuh-ramai pesta, Raja Laucentra mulai berpidato…”

Laucentra: “Ekhem! Harap tenang, harap tenang. Ya, para tamu undangan sekalian yang sedang berbahagia. Saya, Raja Laucentra berdiri di sini selaku Penyelenggara Acara. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran anda sekalian. Yang kedua, saya ingin memberi tahu para tamu undangan sekalian bahwa acara ini sengaja saya rancang sebagai perayaan ulang tahun Putraku, yaitu Pangeran Brian. Dikarenakan oleh kelajangan Pangeran Brian, aku harap kalian, para gadis tidak malu untuk berkenalan dengannya atau sekedar membuat percakapan ringan. Sekian, terima kasih.”

Prolog: “Setelah selesai menyampaikan pidato singkatnya, Raja Laucentra sibuk mencari-cari keberadaan Lucy yang tidak kunjung kelihatan batang hidungnya. Lalu, di pintu gerbang kerajaan, Lucy datang bersama Ibu Peri.” (Lucy & Ibu Peri datang mengenakan topeng)

Satpam: “Hey, stop! Tunjukkan kartu undangan kalian.” (mencegat Lucy & Ibu Peri)

Ibu Peri: “U-undangan?”

Lucy: “Oh, tidak! Kartu undanganku ada di Kak Elsa!”

Satpam: “Maaf, yang tidak membawa undangan tidak diperkenankan untuk mengikuti pesta.”

Laucentra: “Hey, bebaskan dia! Dia adalah tamu istimewaku.” (datang tiba-tiba)

Satpam: “Ba-baik, Raja…”

Prolog: “Raja Laucentra ‘pun mempersilahkan Lucy untuk masuk ke dalam Istananya. Sedangkan Ibu Peri seketika menghilang secara misterius. Di dalam istana, kegaduhan seakan terhenti begitu Raja Laucentra masuk dengan membawa seorang gadis bergaun indah yang memakai topeng. Semua perhatian tertuju pada sang gadis, Lucy.”

Laucentra: “Brian, perkenalkanlah, ini Lucy. Dialah yang kelak akan menjadi Permaisurimu.” (menghiraukan & menyenggol Elsa agar pergi)

Lucy: “Hai, salam kenal.” (melepas topeng)

Prolog: “Obrolan ringan antara Lucy dan Brian ‘pun dimulai sesaat setelah Lucy melepas topengnya. Ketika Lucy melepas topengnya, seluruh orang yang berada di ruangan dansa menatapnya terkagum-kagum karena kecantikan yang ia miliki.”

Laucentra: “Baiklah, Ayah pergi dulu. Kalian tetaplah di sini, biar Ayah tinggal kalian untuk mengobrol terlebih dahulu.”

Brian: “Ya, Ayah.”

-Brian mengobrol dengan Lucy-

Elsa: “Servantat.”

Servantat: “Ada apa, Tuan Putri?”

Elsa:  “Lihat itu. Aku iri dengan wanita itu. Arrgh, pisahkan mereka!”

Servantat:  “Maaf. Permisi, Tuan. Raja Laucentra memanggil anda.” (datang ke Brian & Lucy)

Brian: “Benarkah?”

Servantat: “Ya.”

Brian: “Baiklah, Lucy. Aku pergi dulu. Senang berjumpa denganmu.” (meninggalkan Lucy)

Lucy: “Ya, aku juga senang berjumpa denganmu.”

-Elsa menghampiri Lucy-

Elsa: “Hai. Sepertinya kita pernah bertemu.”(memandang-mandang Lucy)

Lucy: “Eh, ehmm. Kota ini ‘kan sempit, mungkin kita pernah bertemu di jalan. Permisi, saya pergi duluan.” (pergi menghindari Elsa)

Prolog: “Setelah itu, Lucy pulang ke rumahnya lebih awal agar tidak diketahui oleh Elsa & Servantat. Di rumah, Lucy sibuk memikirkan mengenai pengalaman indahnya sampai-sampai ia tertidur. Tidak lama kemudian, Elsa & Servantat ‘pun pulang.”

Elsa: “Sebentar, mengapa Lucy mirip dengan gadis yang tadi? Hmmm… Oh, tidak! Dia memakai kalung permata laut, kalung ajaib itu?!”

-Elsa berusaha untuk mengambil kalungnya, lalu tiba-tiba Lucy terbangun-

Lucy: “Ada apa, Kak?”

Elsa: “Ti-tidak, tidak ada apa-apa.” (pergi sambil bergerutu)

Prolog: “Keesokan harinya…”

Elsa: “Lucyyyyy!”

Lucy: “Ada apa, Kak?” (teriak dari kejauhan)

Elsa: “Cepat ke sini!”

Lucy: “Iya. Ada apa, Kak?” (menghampiri elsa)

Elsa: “Ini. Cuci baju-bajuku dan baju-bajunya Servantat! Ingat! Kamu harus mencucinya dengan tangan dan harus bersih! Tidak boleh menggunakan mesin cuci! Sudah, sana cepat pergi!”

Lucy: “Baik, kak, saya pergi dulu.”

Elsa: “Servantat, ada apa dengan Lucy? Mengapa dia tersenyum-senyum?”

Servantat: “Apakah mungkin karena Lucy ingin menemui Brian di Taman Cinta nanti sore?”

Elsa: “APA, KOK BISA?!”

Servantat: “Kalau kata orang-orang yang semalam menghadiri pesta ulang tahun Brian, sih, Brian jatuh cinta sejak pandangan pertama dengan Lucy.” (Gray lewat)

Elsa: “Aarggh, sial! Hey!”

Gray: “Saya?”

Elsa: “Iya. Kemarilah!” (dihampiri Gray)

Elsa: “Saya dengar kamu menyukai Lucy. Apakah itu benar?”

Gray: (hanya menundukan kepala dan tersenyum)

Elsa: “Apakah kamu tahu bahwa Lucy sedang dekat dengan Brian?”

Gray: (kaget sekaligus sedih)

Elsa: “Wah, kebetulan sekali. Aku punya informasi penting untukmu. Sore nanti, Lucy akan pergi menemui Brian di Taman Cinta. Jika kamu ingin menggagalkan kencan mereka, segeralah pergi sungai.”

Gray: “Ke sungai? Bukannya ke Taman Cinta?”

Elsa: “Lucy sedang mencuci baju di sungai.”

Gray: “Mencuci baju? Ada apa dengan Lucy? Tidak biasanya dia mencuci baju, apalagi di sungai.”

Elsa: “Sudah, sana ke sungai aja cepetan!”

Gray: “Ba-baik! Terima kasih, Nona atas infonya!”

(Lucy sedang mencuci baju di sungai)

Gray: “Hai, Lucy. Apa kabar?”

Lucy: “Baik.”

Prolog: “Lucy selesai mencuci baju.”

Lucy: “Aku pulang duluan, ya.”

Gray: “Kenapa kamu buru-buru sekali?”(mencoba mencegah Lucy untuk pergi)

Lucy: “Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Prolog: “Tidak ingin Lucy untuk pergi, Gray ‘pun berpura-pura sakit perut.”

Gray: “Adududuh, perutku sakit.”

Lucy: “Kamu kenapa?”

Gray: “Tolong, dong, perutku sakit banget, nih.”

Prolog: “Setelah itu, Lucy pergi memulangkan Gray. Sedangkan di depan gerbang Istana Keluarga Laucentra…”

Laucetra: “Brian, tunggu! Mau kemana kamu?”

Brian: “Ada hal yang harus aku lakukan, Ayah.”

Laucetra: “Kamu tidak boleh pergi!”

Brian: “Kenapa?”

Laucetra: “Karena ada seorang Tamu Kerajaan yang mendesak untuk menemuimu.”

Brian: “Aaahh, ayolah, Yah. Plissss ini sangat penting dan aku hampir telat.”

-Elsa datang-

Elsa: “Hai, Brian.”

Laucentra: “Nah, ini dia orang yang ingin menemuimu.”

Brian: “Aku mau pergi.” (menghiraukan kedatangan Elsa)

Elsa: “Berhenti! Kamu tidak boleh pergi!”

Brian: “Kok kamu jadi ngatur-ngatur aku, sih?!”

Elsa: “Apa kamu bilang? Aaargh!” (mau membunuh Brian)

Laucentra: “ELSA, APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN?!”

Elsa: “HUUHH!” (menyerang Laucentra)

Brian: “AYAHHHHH! Berani-beraninya kauu. Akan ku bunuh kau, Elsa!”

Elsa: “Cih. Servantat!!!!!!!”

Servantat: “Iya, Tuan Putri. Ada perlu apa?”

Elsa: “Cepat bunuh lelaki yang kurang ajar itu!”

Prolog: “Terjadilah pertarungan di antara Servantat dan Brian. Tapi pada akhirnya, Servantat ‘pun terbunuh. Lalu di saat Brian ingin membunuh Elsa, lewatlah Gray.”

Elsa: “Gray, bunuh dia! Jangan biarkan dia hidup atau kau tidak akan mendapatkan Lucy!”

Gray: “Akan ku bunuh kau! Tidak peduli siapa dirimu!”

Prolog: “Disaat Gray dan Brian sedang berada dalam pertaturangan yang amat sengit, Lucy ‘pun datang.”

Lucy: “GRAY, BERHENTI!”

Gray: “Lucy?” *Matta – Ketahuan*

Lucy: “Ada apa ini?”

Brian: “Lucy, tolong aku! Pria ini ingin membunuhku.”

Lucy: “Gray, apakah itu benar? Kok kamu tiba-tiba jadi kejam begini, sih? Kamu bilang kamu sakit perut, eh, sekarang malah mau membunuh orang. Ada apa denganmu, Gray, sampai-sampai berbohong kepadaku? Mengapa kamu tidak mau bercerita kepadaku? Padahal kita ‘kan sudah berteman sejak kecil.”

Gray: “Lucy… A-aku menyayangimu. Aku tidak mau kamu jatuh ke pelukan Brian.”

Lucy: “Aku juga menyayangimu, tapi hanya sebagai Sahabat. Maafkan aku. Cinta tidak dapat dipaksakan.”

Elsa: “Gray, cepat bunuh Brian! Kalau tidak, akan ku bunuh kau!”

Lucy: “Lewati aku dulu jika ingin membunuhnya!”

Gray: “Maafkan aku, Lucy.” (bunuh diri)

Lucy: “Gray!!!!”

Gray: “Inilah yang terbaik…” (berbicara saat sekarat lalu meninggal)

Elsa: “Dasar bodoh! Begitu saja tidak bisa! Payah!”

Lucy: “Elsa, kejamnya kau! Dasar tidak punya hati! Kamu tidak pantas hidup!”

Prolog: “Mendengar perkataan Lucy, Elsa ‘pun marah dan mencoba untuk membunuh Lucy.”

Elsa: “Apa kamu bilang? Kamu lantang ya sekarang sama aku? Rasakanlah pedang ini sebagai hukumannya!” (menyerang Lucy)

Brian: “Lucyyyyy! Lucy, bangunlah, ku mohon bangunlah! Aku tidak mau kehilanganmu!”

Lucy: “Brian…”

Brian: “Dasar tidak tahu diri! Akan ku bunuh kau, Elsa!”(mengambil pedang)

-Elsa membunuh Brian dari belakang-

Lucy: “Brian…”

Elsa: “HAHAHAHAHAHA! RASAIN TUH!”

-Peri muncul-

Peri: “Triiing. Lucy, fokuslah! Kamu pasti bisa! Demi semua orang yang kamu cintai!”  (ngebangunin Lucy)

Elsa: “Apa, kamu masih bisa bangun?!”

Lucy: “RASAKAN INI!”

-Lucy membunuh Elsa lalu menghampiri Brian-

Lucy: “Brian…” (nangis)

Peri: “Tenanglah, Lucy! Aku akan membantumu. Aku akan menukarkan nyawaku dengan Brian.”

Lucy: “Hah?”

Peri: “Kamu telah melewati banyak masalah dan kehilangan orang-orang yang kamu cintai. Aku tidak mau hal tersebut menimpamu lagi.”

Lucy: “Baiklah, Ibu Peri. Terima kasih.”

Prolog: “Lalu, seketika Ibu Peri menghilang dan Brian ‘pun hidup kembali.”

Lucy: “Brian! Syukurlah kamu baik-baik saja.”

Brian: “Lucy… Terima kasih sudah menolongku.”

Lucy: “Tidak, justru kamu yang menolongku.”

Brian: “Tapi kamu yang membangunkanku, ‘kan?”

Lucy: “Bukan aku, tapi Ibu Pe…”

Brian: “Ibu? Ibu siapa?”

Lucy: “Sudahlah, ceritanya panjang. Kamu juga tidak akan percaya. Kalaupun percaya, kemungkinan besarnya kamu tidak akan mengerti.”

Brian: “Hah? Apa yang kamu maksud?”

Lucy: “Sudahlah, ayo pergi.” (pergi bersama Brian)

Prolog: “Tanpa disadari, kalung Lucy terjatuh tepat di samping Elsa yang sedang sakaratul maut. Lalu Elsa ‘pun mencoba untuk mengambil kalung tersebut. Setelah ia mendapatkannya, Elsa ‘pun mengenakan kalungnya dan seketika ia sehat kembali.”

Elsa: “HAHAHAHAHA! DASAR CEROBOH! Tunggulah pembalasanku, Lucy!”

Prolog: “Ke-esokan harinya di depan pintu gerbang Istana Keluarga Laucentra…”

Lucy: “Brian, aku pulang dulu, ya. Aku ingin berkemas-kemas terlebih dahulu.”

Brian: “Baiklah, Lucy. Tapi setelah itu, kamu jadi tinggal di Istanaku, ‘kan?”

Lucy: “Ya, tentu.” (pergi)

Prolog: “Tidak lama setelah Lucy pergi, datanglah Elsa yang mengenakan kalung permata laut. Dengan kekuatan mistis dari kalung tersebut, Brian seketika jatuh cinta dan tergila-gila kepada Elsa.”

Brian: “ELSA?! Ya ampun, Elsa, kamu terlihat sangat cantik, bagai bidadari… Ohya, sudikah kau jika ku ajak dirimu untuk tinggal bersamaku di Istanaku yang megah ini?”

Elsa: “Dengan senang hati, Pangeran.” (Lucy datang membawa ransel)

Lucy: “ELSA?! Bukankah kau sudah wafat?”

Brian: “Hey, Lucy, jaga mulutmu! Ingat, ya, secepat aku diangkat menjadi Raja, secepat itu juga Elsa akan diangkat menjadi Ratu. Jadi sebaiknya kamu bersikap sopanlah kepada Calon Ratumu!”

Lucy: “APA?! Gak mungkin, pasti ada yang gak beres. Sebentar, kalungku! Hey, kamu mencuri kalungku!”

Elsa: “Lucy-ku sayang yang amat ku cintai, kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Tidak baik loh menuduh-nuduh orang.”

Brian: “Dengar itu!”

Lucy : “Brian, kok kamu justru membela Elsa, sih? Kak Elsa juga. Kenapa Kakak tiba-tiba jadi sok baik begini? Kakak kesambet apaan?”

Brian: “Hey, Gembel! Pergi saja sana! Jangan ganggu kami lagi! Aduduh, aku kebelet nih. Daahh.”  (pergi)

Elsa : “HAHAHAHA! Kamu dengar sendiri ‘kan apa yang Brian katakan kepadamu? Apa yang dikatakan oleh seseorang yang amat kamu cintai, seseorang yang selangkah lagi bisa menjadi pasangan hidupmu. Sudahlah, menyerah saja. Kalung ini sudah ada di genggamanku dan tidak mungkin kau akan mendapatkannya kembali. Ohya, dan ingatlah pesan calon pasangan hidupku, hormatilah Calon Ratumu ini, HAHAHAHA!”

Lucy: “Huuuh, cerewet kamu! Kembalikan saja kalungku!”

Elsa: “Kalungmu? Enak saja, ini sudah menjadi kalungku!”

Laucentra: “Berhenti, kalian!” (datang dengan badan terluka-luka akibat Elsa)

Lucy & Elsa: “RAJA LAUCENTRA?!”

Laucentra: “Elsa, aku ingin bicara kepadamu.”

Elsa: “I-iya. Ada apa, Tuan Raja?”

Laucentra: “Berani-beraninya kau menghipnotis anakku, dasar tidak tahu diri!”

Brian: “Elsa, aku sudah mendengar semuanya. Ternyata kamu…” (datang tiba-tiba)

Elsa: “Brian?! Ti-tidak, Brian. Apa yang kamu dengar itu salah. Percayalah padaku, sayang. Aku bisa menjelaskannya.”

Brian: “Apa?! Apa yang ingin kamu jelaskan? Coba sebutkan sekarang!”

Elsa: “A-anu, itu…”

Laucentra: “Sebutkan sekarang juga, cepat!”

Elsa: “ARGGH!” (membunuh Brian)

Lucy: “BRIANNN!”

Laucentra: “Brian, Brian anakku…”

Elsa: “Tidak usah bersedih, Lucy. Karena kamu juga akan segera menyusul Brian. HAHAHAHA!”  (membunuh Lucy)

Laucentra: “Lucy?!”

Elsa: “HAHAHA, SEMUA PARASIT TELAH AKU MUSNAHKAN! Hahaha, mereka musnah… Sebentar, mereka musnah, ya, mereka musnah. Lalu kepada siapakah aku akan menggantungkan hidupku? Oh, tidak! Apa yang telah ku perbuat?! Hahaha, bodohnya aku, aku dapat hidup tanpa mereka.”

Prolog: “Setelah puas, Elsa ‘pun pulang kembali ke rumah Lucy dan meninggalkan Laucentra.”

Elsa: “LUCYYYY, AKU LAAAAparr… Ohya, perempuan bodoh itu sudah tiada. Hhmm… Servantat! Servantat! Aargh, kemana dia? SERVANTATTTTT! Hahaha, ohya, dia juga sudah tidak ada. Lalu, lalu, aku dengan siapa? Aargh! Aku sudah dapat menguasai seluruh negeri ini, tapi untuk apa aku meguasainya? Kalung ajaib, tolong aku! Hey, kalung ajaib, tolong aku! Me-mengapa aku jadi berbicara kepada kalung? Aargh, dasar kalung brengsek! -menjatuhkan kalung-. Aku sama siapa sekarang? Oh, tidak, aku baru sadar, aku menyesal, sepertinya aku yang brengsek. Apakah hatiku sebusuk itu?”

Laucentra: “Sekarang kamu menyesal, kan? Ini semua salahmu.” *Cakra Khan – Setelah Kau Tiada*

Ustadz: “Tuh, ‘kan. Ingatlah, sebelum mengerjakan sesuatu, pikir dulu 2x. Kalo sudah meyesal kayak begini ‘kan gak bisa diapa-apain lagi. Kita sebagai manusia butuh bantuan orang lain, jadi jangan sombong dulu dan sok bisa segalanya. Dan juga, jangan menipu orang lain, mengkhianati orang lain ataupun ikut serta dalam kejahatan kalau gak mau kena batunya, sama jangan mengambil barang orang lain, dan kalau diamanahkan untuk menjaga sesuatu, jagalah baik-baik.”

Prolog: “Baiklah, sekian drama dari kelompok kami. Bila ada kesalahan, kami mohon maaf.”

All: “Wassalamu’alaikum, Wr Wb.”

Pakaian
Prolog: bebas.
Cermin: bebas.
Satpam: kaos hitam & celana panjang hitam.
Lucy: gaun dan membawa pakaian lusuh.
Elsa: gaun.
Gray: bebas.
Ibu Peri: gaun.
Raja Laucentra: jas.
Brian: jas.
Ratu Flow: gaun.
Servantat: bebas.
Ustadz: bebas.

Properti
2 buah pedang mainan (untuk perang berganti-gantian).
4 buah mahkota (untuk Raja, Ratu, Brian & Lucy).
Sebuah tas jinjing (milik Elsa yang diambili Lucy)
Sepasang sepatu (milik Servantat yang diambilin Lucy).
Sebuah tongkat ajaib (milik Ibu Peri).
Sebuah cermin besar (benda ajaib milik Elsa;bisa dibuat dari sterofom yang tengahnya dibolongi).
Dua cupcake dengan sebuah lilin kecil (untuk jualan Servantat & kue ultah Lucy).
Sebuah botol kecil (racun).
Tiga piring plastik & sebuah gelas plastik (untuk makan malam)
Sebuah kalung (benda ajaib milik Keluarga Lucy).
Uang (untuk membeli makanannya Servantat).
Tiga buah tas ransel (milik Elsa & Servantat yang dibawa saat pindah ke Istana Lucy dan milik Lucy saat pindah ke Istana Brian)
Sorban (untuk Ustadz)
Topeng pesta (untuk seluruh pemeran kecuali Prolog, Satpam & Ratu)

Created by: Nur Fitriani
Re-created by: RA Naoma Ivana Chandra, Khalid Abdulrahman Said, Amirah Amalia, Trianisa Arafah Wahyudi, Ramanda Fadhil Arifin, Muhamad Faarih Ihsan, Fitri Janika Putri, Saskia Nurhaliza Febriana Ridaryanto dan Raihan Arza.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s